Survei Alvara Ungkap Potensi Radikalisme, Ini Tanggapan Din Syamsuddin

0
92
Hasanuddin Ali
CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali di Batik Kuring, Jakarta, Selasa (31/10). (Foto: Achmad/SERUJI)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Hasil survey Alvara yang diluncurkan Selasa (31/10) terkait potensi radikalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa cukup mencengangkan. Salah satunya menyangkut negara Islam perlu diperjuangkan dan menerapkan ajaran agama tersebut secara kaffah di Indonesia. Sebanyak 76,5 persen‎ mahasiswa menolak, dan sisanya 23,5 persen mendukung. Sementara di kalangan pelajar, 83,6 persen tidak setuju, 16,3 persen setuju.

Kemudian, menyangkut ideologi, 83,2 persen mahasiswa masih menganggap Pancasila sebagai ideologi yang tepat di Indonesia. ‎Dan hanya 16,8 persen yang memilih ideologi Islam. Sementara di kalangan pelajar angkanya juga cukup besar, yakni 81,3 menganggap Pancasila masih tepat sebagai ideologi Indonesia, sedangkan 18,6 persen lebih setuju ideologi Islam.

Survey ini juga menunjukan angka yang mengejutkan ketika melihat angka mahasiswa dan pelajar ketika ditanya soal kesiapan berjihad demi tegaknya negara Islam atau khilafah. 76,5 persen mahasiwa menolak, dan 23,4 persen siap berjihad.

“Sementara di kalangan pelajar 76,7 persen tidak setuju, dan hanya 23,3 persen yang setuju,” ujar ‎CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, di Jakarta, Selasa (31/10).

Hasanuddin mengatakan, survey ini dilakukan pada kurun waktu 1 September hingga 5 Oktober 2017 dengan melibatkan 1800 responden mahasiswa di 25 perguruan tinggi unggulan di Indonesia dan 2400 pelajar SMA unggulan yang terdapat di pulau Jawa dan luar Jawa.

Adapun metodologi riset menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan melalui survey tatap muka. Untuk mahasiswa dipilih dari jurusan yang mensuplai tenaga kerja di 7 sektor, yaitu sektor‎ pertahanan keamanan, keuangan, energi dan pangan, telekomunikasi dan logistik, serta sektor kesehatan. Sedangkan untuk sample SMA dibatasi pada lima sekolah favorit di tiap kabupaten/kota.

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsudin, di Jakarta, Selasa (31/10). (Foto: Achmad/SERUJI)

Menangapi hal tersebut, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsuddin mengatakan,‎ survei punya metodologi masing-masing bisa jadi benar, bisa tidak. Seandainya survey tersebut betul, harus dilihat kembali. Kendati demikian, ia meyakini masih ada anak anak bangsa yang punya pikiran dan jalannya sendiri untuk siap berjihad.

Hal tersebut, menurut Din, merupakan tanggungjawab dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Agama.

“Tetapi jangan showcase seperti itu justru akan mengganggu hubungan. Secara psikologis, sering survei itu membuka radikalisasi. Sudah dituduh radikal, sekalian aja radikal,” ujar Din Syamsuddin ketika ditemui SERUJI usai memimpin sidang di kantor CDCC (Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations).

Menurut Din, survei itu tidak menyelesaikan masalah malah membangkitkan emosi. Kesimpulannya pasti ada di setiap kelompok masyarakat itu yang radikal, dan intoleran. Padahal, mereka perlu dijangkau dan santuni.

“Kita berlomba dalam mengajukan naratif,” kata dia.

Menurutnya, sekarang kalangan Islam sudah mengarusutamakan Islam yang wasathiyah dan rahmatan Lil alamin.

“Kalau saya, jangan adu narasi di udara, tapi kopdar ke bumi. Kopi darat, ngomong. Ini yang belum kita mulai,” katanya.

Menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, ‎pada dasarnya watak dan warna dasar umat berbagai agama di Indonesia, sebagaimana watak dan warna dasar bangsa Indonesia sangat berkecenderungan kepada kasih sayang, kerukunan, harmoni, perdamaian. Mengapa demikian? Karena agama-agama yang hadir di Indonesia ini punya dasar dan watak menyebarkan perdamaian, atau mengajarkan kasih sayang kerukunan, dan perdamaian. Ditambah lagi dengan adanya nilai-nilai dasar kita sebagai bangsa berupa kesepakatan suci dalam wujud Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

“Sehingga ini merupakan modal dasar. Jadi watak dasar agama Indonesia cenderung pada jalan tengah,” katanya.

Lebih lanjut, Din menambahkan, watak dasar budaya yang juga dipengaruhi agama dan budaya Indonesia itu sendiri cenderung jalan tengah. Modal dasar ini telah menjelma bertahun-tahun, beberapa dasawarsa dan sangat menonjol ketika pendiri bangsa mendirikan bangsa Indonesia.

“Itu outputnya, keluarannya itu jalan tengah, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, merupakan jalan tengah yang penting bagi masyarakat majemuk,” tuturnya.

Memang, menurut Din, prinsip ini bisa mengatasi primordial atas dasar keagamaan atau kesukuan, sehingga sentimen anti agama dan anti suku terkendali. Namun perkembangan kehidupan kebangsaan kita utamanya di era reformasi ini. Menurutnya, reformasi membawa munculnya kebebasan bahkan nyaris kebablasan, ada proses demokratisasi, liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik, dan liberalisasi budaya, ini selain sisi positif ada negatif.

“Perbedaan pandangan politik ternyata memiliki data adanya rusaknya kerukunan dan soliditas bangsa. Itu yang telah dan tengah terjadi. Ini harus segera diatasi,” katanya.

Karena itu, jalan keluarnya menurut Din adalah‎ pertama, mutlak perlu revitalisasi etos dasar bangsa yang cenderung pada jalan tengah, baik lewat penekanan dan pengarus-utamaan paham keagamaan yang moderat, dalam bahasa agama disebut Islamnya Wasathiyah. Dalam agama lain ada istilahnya, pakailah istilah wawasan keberagaman jalan tengah. Moderat, toleransi, koeksistensi siap untuk hidup berdampingan secara damai.

1
2
BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA TERBARU

Peresmian Kantor Induk PJR Serang

Kantor Induk Polisi Jalan Raya Serang Resmi Beroperasi

SERANG, SERUJI.CO.ID - PT Astra Infra Toll Road Tangerang-Merak selaku pengelola jalan tol Tangerang-Merak bersama Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri meresmikan beroperasinya Kantor Induk Patroli...
Khofifah-Emil

Resmi Usung Khofifah-Emil, Golkar Ancam Beri Sanksi Kadernya yang Tak Dukung

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - DPP Partai Golkar mengancam akan mengambil sikap tegas kepada kader partai Golkar yang tidak menjalankan putusan Partai Golkar yang telah memberikan...
Gus Ipul (kiri) dan Khofifah (kanan)

Survei: Jika Pilgub Jatim Dilakukan Hari ini, Siapakah Yang Anda Pilih?

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur akan berlangsung pada tahun 2018. Dan saat ini sudah ada dua pasang calon yang secara resmi...

KANAL WARGA TERBARU

Setan Pendidikan yang Bernama Kompetisi

Oleh Muhammad Hanif Priatama Bagaimana cara kebanyakan orangtua mengetahui seberapa baik anaknya di sekolah saat ini? Jawabannya : RANGKINGNYA! Ya, tidak ada sarana yang paling...
KH. Luthfi Bashori

Pilih Mancung atau Pesek?

KH. Luthfi Bashori Seseorang yang berpakaian islami itu menunjukkan imannya MANCUNG di sisi Allah. Sedangkan menanggalkan pakaian islami itu adalah perbuatan orang yang PESEK imannya...
images lpdp

Contoh Essai LPDP: Sukses Terbesar dalam Hidupku

Beasiswa LPDP menjadi pilihan bagi para penuntut ilmu yang ingin melanjutkan pendidikannya pada level Master dan Doktoral, baik di Dalam maupun Luar Negeri. Salah...