Prof Zainudin Maliki: Kesadaran Literasi Indonesia Sangat Minim

2
263
  • 17
    Shares
Prof. Dr. Zainudin Maliki, M.Si (berdiri). (Foto: istimewa)

SURABAYA – Penasehat Dewan Pendidikan Jawa Timur Prof. Dr. Zainudin Maliki, M.Si menyampaikan pentingnya sebuah peradaban dibangun dengan budaya literasi, yaitu budaya menulis dan membaca.

Zainudin menjelaskan bahwa berdasarkan survei dengan nama “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticus State pada bulan Maret 2016 lalu, ternyata Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal membaca.

“Hal tersebut tentu saja dinilai sangat rendah dalam kesadaran pentingnya membaca,” ujarnya dalam sebuah acara bedah buku di gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl. Sutorejo no. 73-77 Surabaya, pada Ahad, (21/5/2017).

Lebih lanjut Zainudin menyebutkan bahwa jarangnya keberadaan toko buku di daerah, dan hanya ada di kota-kota besar saja serta ditambah sepinya pengunjung sebagai indikator yang membuktikan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.

Indikator lainnya adalah banyaknya tradisi lisan, mulai dari rekaman trafic light untuk ketertiban berlalu lintas, rekaman palang pintu rel kereta api agar para pengendara tidak menerobos.

“Hal tersebut dikarenakan mereka tahu bahwa masyarakat Indonesia tidak suka membaca. Seperti yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura, lihat saja, memberitahukan agar barang-barang yang kita bawa, seperti dompet, arloji, supaya dimasukan ke dalam tas. Pemberitahuan tersebut dengan lisan, bukan tulisan. Di luar negeri tidak ada seperti itu,” jelasnya saat ditemui SERUJI pasca pemberian cenderamata.

Maka dari itu, menurutnya perlu adanya gerakan-gerakan sistematis menumbuhkan budaya literasi, mulai dari sekolah-sekolah dengan cara melatih siswa untuk mengekspresikan ide dan gagasan yang dimiliki dalam bentuk tulisan melalui program-program yang disebut dengan imajinative writting.

“Beri kesempatan ia (anak-red) untuk memunculkan imajinasinya, semakin banyak imajinasinya dan tuliskan, tuangkan dalam tulisan imajinasi-imajinasinya tersebut,” jelasnya.

Realitanya, anak-anak zaman sekarang tidak dilatih untuk berimajinasi, sehingga bisa dikatakan bahwa mereka miskin imajinasi dan miskin pula tulisan-tulisannya. Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyak yang digambar oleh mayoritas anak bila mendapat tugas menggambar, yaitu berupa gambar gunung dua dengan matahari di tengah, serta dua sawah, jalanan di tengah dan pohon kelapa.

“Tidak ada imajinasi! Oleh karena itu, tradisikan imajinative writting, berimajinasi apa saja? Yang positif lalu tuliskan. Ada talk and write, coba dia (anak-red) ngomong, dan apa yang diomong ditulis,” lanjutnya.

Tradisi seperti itulah yang harus ditumbuhkan di dunia pendidikan maupun di komunitas-komunitas tertentu, sehingga kesadaran generasi tentang pentingnya membaca akan meningkat.

Solusi berikutnya yang diberikan oleh Prof. Zainudin Maliki adalah agar dipermudah akses informasi dalam bentuk tulisan.

“Tetapi karena budaya literasinya tidak ada, kemudahan akses malah tidak memberikan nilai tambah, karena yang senang dibaca berita gosip dan hoax,” pungkasnya.

Acara bedah buku yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya tersebut membedah buku “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Tarjih dan Tajdid” dan buku “Fundamentalisme Muhammadiyah”, karya pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Surabaya, Dr. H. Mahsun Jayadi, M. Ag.

Dalam acara tersebut, selain Prof. Dr. Zainudin Maliki, M.Si, hadir pula sebagai pembicara Prof. Joni Herman selaku Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

 

EDITOR: Iwan Y

Langganan berita lewat Telegram
loading...
Loading...
BACA JUGA

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU