Pribumi vs Non Pribumi

Bagi saya pengistilahan pribumi atau native di sebuah negara tidak selalu identik dengan ras dan etnis. Toh dalam kasus Indonesia etnis asli itu siapa? Melayu? Boleh jadi mereka adalah gabungan China dan India. Bahkan saudara-saudara kita di Aceh banyak yang berwajah India, bahkan Eropa. Etnis China di Aceh banyak yang tetap bermata sipit tapi berkulit sawo matang.

Saya justeru lebih cenderung memahami pengistilahan ini dalam perspektif sosio ekonomi masyarakat. Bahwa istilah pribumi dan non pribumi, native vs non native itu lebih kepada tatanan sosial ekonomi kemasyarakatan. Inti sesungguhnya ada pada “keadilan sosial vs ketidak adilan sosial” yang ada dalam masyarakat. Maka ketika istilah tersebut timbul sejatinya dilihat dulu kepada aspek keadilan vs ketidak adilan yang ada di masyarakat.
Ada kecenderungan persepsi yang tumbuh selama ini bahwa segmen masyarakat yang dianggap non pribumi itu adalah etnis China. Tapi benarkah hanya etnis China yang non pribumi? Tentu tidak demikian. Tapi kenapa etnis China selalu diidentikkan dengan non pribumi?

Jawabannya bisa dilihat pada tatanan “socio economic justice” (keadilan sosial ekonomi) dalam masyarakat. Tentu hal ini bukan sesuatu yang baru di masyarakat. Ambillah Jakarta sebagai contoh. Berapa persen perekonomian di tangan etnis tertentu?

Kita ambil isu lokal di Papua misalnya. Para pendatang Bugis Makassar adalah segmen masyarakat yang mendominasi perekonomian di daerah itu. Bisnis dan perdagangan rata-rata dikuasai oleh warga Bugis Makasar. Maka tidak jarang terjadi gesekan sosial antara mereka yang kerasa orang asli Papua dan mereka yang dianggap non Papua. Padahal warga Bugis Makasar di daerah ini sudah beranak cucu, ber ktp Papua, tapi masih juga dianggap bukan orang-orang Papua.

Oleh karenanya saya melihat perlu keseimbangan yang dibarengi oleh kejujuran i’tikad dalam memahami setiap kata atau istilah. Kata imigran di Amerika jika diidentikkan dengan “non white” maka itulah rasisme. Karena sejatinya mereka yang berkulit putih, termasuk Presiden Donald Trump adalah imigran atau cucu seorang imigran dari Eropa. Tapi kalau kata ini dipakai sebagai sebuah pengistilahan sosial, misanya tentang pentingnya bagi pendatang di Amerika untuk berintegrasi secara positif ke dalam masyarakat Amerika maka saya melihat sah-sah saja.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER