Prabowo dan Ratu Adil

2
318
  • 42
    Shares

Gagasan Besar Prabowo

Orang-orang besar selalu hidup dengan gagasan besar. Dalam melihat kebesaran Prabowo, tentu saja kita bisa mengamati beberapa pikiran, sikap dan langkahnya beberapa waktu terakhir ini.

Pertama, Anti Impor. Orang-orang banyak yang merasa ganjil, geli atau menyepelekan soal pikiran Prabowo soal tidak lagi mengimpor nantinya. Namun, dibalik statemen Prabowo ini sesungguhnya adalah sebuah sikap hidupnya bahwa bangsa ini hanya bisa menajadi bangsa yang berproduksi (industrial society) jika dan hanya jika penyakit senang impor dari masa sekarang dibumihanguskan.

Loading...

Statemen Prabowo ini tidak bertentangan dengan pikiran bapaknya yang salah satu ikut mendirikan jurusan ilmu ekonomi di Universitas Indonesia itu. Justru ini adalah sebuah pesan moral dan sebuah revolusi mental yang urgen segera dilakukan, karena ancaman terbesar bangsa kita adalah penyakit impor (import minded).

Anti impor ini menemukan momentum saat ini karena dua hal yakni a) saatnya Indonesia masuk kembali ke tema Industrialisasi, dimana kita harus memproduksi barang-barang konsumsi kita sendiri, semaksimal mungkin. Impor hanya dijadikan alat bantu. b) dalam masa era Trump dan “Brexit”, di mana kaum globalis lama (WTO, IMF dan World Bank) tersudut, dan tema supremasi negara bangsa hadir, Indonesia punya kesempatan mengurus diri sendiri tanpa banyak campur tangan asing.

Sebagai pemimpin Prabowo meyakini “equality“, “sharing prosperity“, “sama rata sama rasa”, adalah kunci dan hanya kunci bagi keberlangsungan Indonesia.

Kedua, “topi Tauhid”. Kemarin Prabowo memamerkan dirinya memakai topi bertuliskan La Ilaha Illallah. Dengan simbol ini Prabowo menegaskan dirinya terkait dengan sebuah ruh yang terkoneksi dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sekaligus terkoneksi dengan sejarah kebangsaan kita yang dibebaskan dari Belanda dengan takbir.

Dengan simbolik ini, Prabowo menunjukkan identitas kepemimpinannya bukan tipe pemimpin yang “mengalir”, melainkan pemimpin yang teguh dengan nilai.

Sekaligus juga menunjukkan tema sosialistik yang sering diusungnya bertemu dengan Islamisme. Sebuah pemikiran besar yang dapat dirujuk pada founding father Soekarno, yang mencari pondasi kebangsaan kita pada Islamisme, Sosialisme dan Nasionalisme.

Ketiga, “tampang Boyolali”. Dalam pidato utuh Prabowo di Boyolali yang jadi kontroversial saat ini, sejatinya Prabowo justru menegaskan kembali keberpihakannya pada rakyat jelata, rakyat desa, dan sekaligus anti pada pembangunan yang kapitalistik saat ini. Prabowo menunjukkan penyakit besar bangsa ini adalah kesenjangan sosial, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Berbeda dengan kasus rasis yang bersamaan waktunya saat ini heboh di USA, ketika presenter terkenal Megyn Kelly dari NBC mempersoalkan “wajah hitam” (black face). Prabowo tidak masuk pada tema rasisme.

Sebagai pemimpin Prabowo meyakini “equality“, “sharing prosperity“, “sama rata sama rasa”, adalah kunci dan hanya kunci bagi keberlangsungan Indonesia. Jadi tema keadilan sosial dan tema rakyat sejahtera terpatri dalam jiwa Prabowo.

Tentu banyak lagi langkah-langkah dan simbolik yang bisa dipelajari dari Prabowo secara ilmiah. Yang membutuhkan pengamatan lebih lanjut tentunya. Begitupun 3 hal ini sudah cukup untuk sementara membuktikan arah kepemimpinan nasionalistik-sosialistiknya.

2 KOMENTAR

  1. Ada bedanya antara gagasan besar dan kemustahilan..
    Gagasan besar tp harus tetap realistis..
    Exspor impor itu hal yg wajar disetiap Negara..Negara maju sekalipun ttp melakukan impor barang yg tidak mungkin diproduksi di Negara tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU