Oleh-Oleh Ramadhan

|

Oleh:
Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS Surabaya


SERUJI.CO.ID – Puasa Ramadhan dimaksudkan agar kita menjadi muttaqin. Muttaqin adalah manusia yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup, mendirikan sholat dan membangun sistem infaq yang disebut az zakat.

Ajakan taqwa ini hampir selalu diserukan setiap minggu oleh khotib Jumat. Dengan taqwa itu mu’min tidak akan sudi mati kecuali sebagai muslim. Perlu segera dicermati bahwa ajakan taqwa bagi muslim itu diikuti seruan agar ummat Islam bersatu berpegang teguh pada ajaran Allah SWT dan tidak berpecah belah.

Salah satu kondisi pemecah belah (devide et impera) paling berbahaya bagi ummat manusia -khususnya ummat Islam- adalah kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi. Kedua masalah itu banyak sebabnya -terutama pemimpin yang tidak adil- namun yang paling penting adalah riba. Riba ini telah menyebabkan ummat Islam sulit disebut sebagai ummat yang satu karena sudah terbagi menjadi berbagai kasta sosial ekonomi yang melemahkan ummat Islam.

Riba adalah sebuah sistem ekonomi yang merusak (fasad) yang memperburuk akhlaq pelakunya, memperbudak korbannya lalu merusak ekosistem planet bumi karena kerakusannya.

Allah SWT dan Rasulullah SAW telah mempermaklumkan perang melawan pelaku riba. Maklumat perang melawan riba ini adalah ayat terakhir setelah Allah swt memaklumatkan ridlo-Nya atas kesempurnaan Islam sebagai nikmat, yaitu sebagai cara mengorganisasikan hidup bersama yang terbaik bagi semua ummat manusia tidak peduli agama dan suku serta bangsanya. Semua manusia yang hidup dengan cara lain akan berakhir dengan kebangkrutan.

Lawan riba adalah zakat, sebuah sistem ekonomi yang menghalalkan shadaqah dan perdagangan yang jujur dan adil. Setiap pelaku dagang menghadapi resiko sebagai bagian dari bisnis yang adil. Sementara riba hanya menguntungkan satu pihak saja. Di samping bunga pinjaman, riba juga wujud dalam uang kertas yang tidak memiliki nilai intrinsik. Islam menghalalkan dinar emas atau dirham perak sebagai alat tukar. Para pemecah belah ummat manusia ini mudah sekali mencetak uang out of thin air tanpa mau meningkatkan cadangan emasnya dan dengan cara licik penuh tipu daya ini mengeruk hampir semua kekayaan ummat manusia dari berbagai bangsa.

Islam menghalalkan sektor riil berbasis sumberdaya alam, perdagangan barang dan jasa, namun mengharamkan sektor keuangan spekulatif yang kini justru makin mendominasi sistem ekonomi global saat ini. Melalui sistem Fractional Reserve Banking, ekonomi global saat ini semakin terjerumus kedalam ekonomi gelembung berbasis hutang konsumtif yang hanya menguntungkan segelintir orang namun memperbudak massal ummat manusia. Ini adalah sebuah organized corruption dalam skala global.

Kondisi darurat kemiskinan yang dialami ummat manusia saat ini bukan alasan menghalalkan riba. Justru ribalah yang menyebabkan kondisi darurat ini. Setelah perayaan Iedul Fithri 1439H ini, muslim di manapun berada, terutama muslim Indonesia perlu menjadi garda depan gerakan memerangi riba ini untuk menyelamatkan seluruh ummat manusia di planet yang satu ini.

Jatingaleh, 17/6/2018

Loading...
Daniel Mohammad Rosyid
Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.

Satu Periode Kepemimpinan Saja

Stop Riba Sekarang Juga !