Idulfitri: Kembali dari Riba ke Zakat

|

Oleh:
Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS Surabaya


SERUJI.CO.ID – Allahu akbar 2. Laa ilaaha illa Allah. Allahu akbar 2 wa lillahil hamd !!!

Alhamdulillah, setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan kita berharap telah memupuk kompetensi muttaqin (al Baqarah : 183) :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)

Setiap Jumat kita selalu diingatkan untuk bertaqwa dan tidak mati kecuali sebagai muslim. Seruan taqwa itu selalu disertai dengan dengan seruan persatuan dan menjauhi perpecahan. Salah satu sumber perpecahan itu adalah kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi.

Melalui latihan pengendalian syahwat perut dan kelamin selama Ramadhan, sholat malam dan shadaqah, dan tadarus al qur’an para muttaqin adalah manusia yang telah kembali pada fithrah penciptaannya : hamba Allah yang jujur shiddiq, cerdas fathonnah, amanah dan peduli tabligh. Dengan pribadinya yg fitri itulah para muttaqin siap dan ringan menjadikan al Qur’an sebagai pedoman hidupnya (al Baqarah : 2-3) setelah Ramadhan berlalu.

(ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ)

(الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ)

Salah satu dimensi hidup manusia yang terpenting adalah dimensi ekonominya. Saat ini, ummat manusia sejagad mengalami ketimpangan kemakmuran yang makin lebar. Kekayaan makin menumpuk hanya ke segelintir ellite, sebagian dari harta mereka ini berupa penguasaan tanah. Di Indonesia, ada segelintir 1 juta orang yang kekayaannya setara dengan kelayaan 100 juta orang. Satu sebab utama kesenjangan itu adalah riba, yaitu sebuah sistem ekonomi yang tidak saja buruk bagi akhlaq pelakunya, namun juga sekaligus memperbudak dan memiskinkan manusia serta merusak ekosistem planet bumi ini. Sementara itu ada 40-100 juta warga Indonesia yang miskin yang penghasilannya kurang dari Rp. 30 Ribu/hari.

Mengapa begitu banyak warga kita hidup dalam kemiskinan ? Rasulullah SAW mengatakan bahwa 9 dari 10 rezki datang dari perdagangan. Allah SWT menghalalkan perdagangan tapi mengharamkan riba. Pelaku riba sering mengatakan bahwa perdagangan itu sama saja dengan riba. Padahal perdagangan berbeda dengan riba. Riba adalah semua transaksi yang memastikan keuntungan tanpa resiko sepihak, sementara pihak lainnya yang bertransaksi dipaksa memikul resiko. Ini adalah cara bathil memperoleh keuntungan di atas penderitaan orang lain. Bunga pinjaman adalah salah satu bentuk riba. Peminjam harus membayar hutangnya walaupun dia rugi sedangkan pemberi pinjaman untung terus.

Allah SWT melarang kita untuk menumpuk kekayaan seperti yg dilakukan oleh Qarun (Ali Imran : 130) :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

sebagian dengan cara yang bathil -ribawi- (an Nisa : 161).

(وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا)

Sikap dan sistem ekonomi ribawi inilah yang menjadi sebab pokok kemiskinan dan ketimpangan sosial masyarakat.

Allahu akbar 2. Laa ilaaha illa Allah. Allahu akbar 2 wa lillahil hamd !!!

Salah satu bentuk riba yang lain adalah uang kertas yang dicetak tanpa didukung oleh cadangan emas atau logam lainnya. Islam hanya menghalalkan alat tukar yang memiliki nilai intrinsik, seperti dinar emas (Ali Imran : 75) atau dirham perak :

(وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ)

Dalam situasi tertentu, kurma, atau garam bisa dijadikan alat tukar. Alat tukar tidak boleh diperjualbelikan. Saat ini sistem keuangan global Brettonwoods yang dipakai secara internasional menghalalkan semua yang diharamkan oleh Allah swt dan RasulNya. Ini adalah dosa syirk yang tak terampuni (at Taubah : 31) seperti yang telah dilakukan para pendeta Nasrani dan rahib Yahudi.

(اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ)

Betapa sistem keuangan global saat ini sangat merusak bisa dilihat dari Fractional Reserve Banking system yang dipakai dalam sistem perbankan kita saat ini. Ini adalah sumber ekonomi gelembung ( bubble economics) yang menopang gaya hidup sok-modern boros berbasis hutang saat ini. Manusia hidup lebih besar pasak daripada tiang. Melalui quantitative easing Bank Sentral bisa mencetak uang atau surat hutang begitu saja out of thin air tanpa menambah cadangan emasnya. Pelaku terbesar kebijakan ini adalah The Fed Amerika serikat. Ekspor tambang, minyak, emas, kayu dan sawit kita dibayar hanya dengan uang kertas atau uang elektronik belaka !!! Dengan cara inilah kekayaan kita dirampas bahkan secara remotely controlled.

Beberapa tokoh ulama mengatakan bahwa penghalalan riba bersifat darurat. Soalnya adalah kapan kondisi darurat ini berakhir ? Hemat kami, situasi darurat ini adalah akibat dari praktek riba dalam kehidupan ekonomi sehari-hari kita. Bukan sebaliknya. Jadi jika kita segera meninggalkan riba, kita justru bisa keluar dari kondisi darurat menuju kondisi sejahtera hidup tanpa riba dan hutang.

Allah SWT memerintahkan kita agar meninggalkan riba dan memperbanyak shadaqah (al Baqarah : 276).

(يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ)

Bahkan dalam tahap akhir transisi dari kehidupan ribawy menuju kehidupan zakaty, Allah melarang kita memungut sisa riba yang belum dibayar. Allah SWT dan RasulNya dalam wahyu terakhir yang diturunkanNya bahkan menyatakan perang atas para pelaku riba (al Baqarah : 278-279).

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ)

(فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ)

Allahu akbar 2. Laa ilaaha illa Allah. Allahu akbar 2 wa lillahil hamd !!!

Salah satu tujuan utama puasa adalah kompetensi mengendalikan konsumsi. Kita dilatih untuk urip sak madyo. Hidup sederhana. Mengutamakan kebutuhan ( needs), bukan melayani keinginan ( wants) yang tak kunjung terpuaskan. Kehidupan konsumtif telah menjerumuskan banyak orang kedalam hutang dan menjatuhkannya dalam riba.

Puasa membuat kita sanggup untuk hidup sederhana, sak madyo, sak sedhenge, tidak berlebihan apalagi hedonistik dengan mengandalkan hutang. Puasa mengasah kepekaan kita untuk membedakan mana kebutuhan kita dan mana keinginan. Puasa menguatkan diri kita untuk tidak memenuhi syahwat keinginan kita akan berbagai barang-barang yang tidak berguna. Puasa menguatkan kita untuk mengkonsumsi barang-barang yang halaalan thayyiban saja (Al Baqarah : 168).

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ)

Menuruti nafsu memenuhi keinginan adalah mengikuti langkah syaithan yang merusak diri kita sendiri.

Puasa sesungguhnya juga membuat kita lebih sehat sekaligus memiliki kapasitas produktif melalui kegiatan penciptaan nilai-tambah di sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, perdagangan dan industri. Kita perlu mengurangi ekonomi kita dari ketergantungan pada sektor keuangan. Keuangan tidak boleh lagi menjadi sektor tersendiri. Dia hanya berperan mempermudah transaksi perdagangan barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan masyarakat. Tidak boleh menjadi sumber spekulasi dan judi.

Sikap konsumtif itu dimulai di sekolah saat pendidikan dijadikan komoditi yang makin tersegmentasi dan menjadi sumber agregasi klas sosial. Upaya hidup sederhana harus kita mulai dengan menggeser pusat belajar kita ke rumah dan masjid, bukan di sekolah.

Semoga dengan shaum ramadhan ini kita kembali pada jati diri kita sebagai hamba Allah SWT yang fithry : jujur, amanah dan peduli serta cerdas menjalani kehidupan bebas riba. Kompetensi muttaqin ini akan memberi kekuatan untuk hidup sederhana tanpa hutang sekaligus menghentikan pemiskinan atas bangsa ini. Aamiin.

Allahu akbar 2. Laa ilaaha illa Allah. Allahu akbar 2 wa lillahil hamd !!!

Masjid As Salaam, Purimas,
Gunung Anyar, Surabaya
15 Juni 2018

(ARIf R/Hrn)

Loading...
Daniel Mohammad Rosyid
Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.