Inggris adalah salah satu dari hampir semua negara Barat yang belum mau mengakui hari besar Islam sebagai libur nasional. Padahal jumlah penganutnya meningat tajam dan sudah ada organisasi Muslim di Inggris yang mengajukan permohonan kepada pemerintah agar hari raya Islam dijadikan libur nasional. Berbanding terbalik dengan negara-negara mayoritas Muslim yang menghargai hari besar selain Islam.

Tidak heran bila banyak kaum muslimin yang tak dapat meninggalkan pekerjaan di tempat masing-masing pada saat umat Muslim di belahan dunia lain dapat menikmati ibadah pada waktu libur. Sebagian yang hadirpun, segera meninggalkan lapangan agar kembali ke tempat kerja secepatnya.
Ada beberapa kondisi pelaksanaan shalat Idul Adha yang menurut masyarakat tidak lazim seperti kebiasaan umum di Indonesia. Misalnya bacaan takbir. Pemandu takbir membaca Allahu Akbar tiga kali disambung dengan lafaz lahaulawala quwwataillabillah, subhanallahi walhamdulillahi walaailaahaillallahu wallahu akbar. Begitu seterusnya. Kondisi ini mengakibatkan sebagian besar jamaah hanya ikut melafazkan takbir di dalam hati atau dengan suara yang pelan, sesuai kebiasaan dari asal negara masing-masing. Sebab, sebagian besar jamaah di sini adalah pendatang, baik pekerja, mahasiswa dan pelajar.
Selain itu kegiatan shalat dimulai setelah mendekati siang, yakni pada pukul 09.30 BST (15.30 WIB) setelah diawali dengan tausiyah oleh imam setengah jam sebelumnya. Saat shalat dimulai, imam menjelaskan tata cara shalat yakni di rakaat pertama setelah takbirarul ikhram, sebagaimana dijelaskan imam shalat, ada tiga takbir sebelum Alfatihah dibaca. Sedangkan di rakaat kedua ada tiga takbir setelah Alfatihah dan ayat Alquran dibaca. Takbir bukan dilafazkan sebelum Alfatihah.
Kutbah juga berlangsung sangat singkat dalam dua bahasa, Arab di kutbah pertama dan Inggris pada kutbah kedua. Usai kutbah, jamaah dijamu makanan dan minuman ringan sekedar membatalkan puasa pagi dan anak-anak juga mendapatkan beragam hadiah mainan.
