Indahnya Ukhuwah, Etika dalam Perbedaan Dakwah

0
279
  • 5
    Shares
Mudzakarah Dai di Graha IKADI, Surabaya, Sabtu, 29/4/2017. (Foto: Firman Arifin/Seruji)

SURABAYA – Graha IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) Jawa Timur pada hari ini, Sabtu 29 April 2017 pagi, kedatangan tamu-tamu istemewa. Tidak kurang dari seratus ulama se-Jawa Timur memenuhi ruang pertemuan IKADI Jatim. Graha IKADI yang terlak di Jalan Frontage Timur Ahmad Yani 153 ini, terasa seperti suasana pesantren di tengah kota Surabaya.

Ulama-ulama tersebut yang berada dalam rumah besar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, tepatnya Komisi Dakwah MUI Jawa Timur mengadakan kegiatan rutin Mudzakarah Da’i. Kegiatan ini diadakan setiap bulan dengan tuan rumah bergantian di kantor lembaga dakwah yang tergabung.

Ustadz Abdurahman Navis, Wakil Ketua MUI Jatim dalam sambutannya menyampaikan pentingnya etika dalam menyikapi perbedaan.

“Mudzakaroh kita hari ini, Komisi Dakwah MUI membahas etika menyikapi perbedaan dalam berdakwah,” ujarnya.

“Mudzakaroh ini memang berbeda. Dari bermacam-macam organisasi kita bertemu dengang tema perbedaan. Tantangan umat, masing masing kelompok bangga dengan apa yang dilakukan. Komisi dakwah MUI Jatim ingin mendapatkan titik singgung yang sama,”, tambahnya.

Sebagai tuan rumah, Ust M. Sholeh Drehem dalam sambutan menyampaikan pentingnya ummat Islam mengambil peran dalam membangun bangsa dan negara.

“Umat Islam saat ini mayoritas namun dikendalikan oleh minoritas. Alladziina kafaru ba’duhum auliya’u bakd, kalau kita tidak melakukan hal yang sama maka akan timbul fitnah yang besar”, ujarnya.

“Upaya MUI Jatim untuk menyatukan kita perlu kita apresiasi. Semoga kita bisa menyikapi dengan baik dinamika terkini dan bisa memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa dan negara,” tambah Ketua IKADI Jatim.

Sebagai pembicara acara inti, Ust Ahmad Mudzoffar Jufri Lc.MA mengawalinya dengan pertanyaan, “Etiskah kalau kita masih memperdebatkan perbedaan yang ada di antara kita? Sederet khilafiyah yang menghabiskan energi umat. Mulai qunut, tarawih, maulid, isra’ mi’raj dan usholli”.

“Khilafiyah sudah ada sejak salafus sholih. Kita mewarisi kilafiyah para imam. Sayang pewarisan kita tidak lengkap yaitu etika beliau beliau dalam berkhilaf,” narasinya.

Ust Ahmad menambahkan,”Imam Ahmad ibnu Hambal dan Imam Syafi’i bersahabat, salah satu menjadi guru. Madzhab Hambali muncul belakangan. Dua imam tersebut saling memuji, walau banyak perbedaan pendapat di antara mereka. Imam Ahmad selalu berdoa khusus untuk Imam Syafi’i. Sikap antar imam, antar guru dan murid itulah yang perlu kita teladani”.

Dalam acara ini, hadir pula Prof. Aminuddin Kasdi, Guru Besar Sejarah Unesa. Dia menguraikan peristiwa-peristiwa seputar pemberontakan PKI dan gejala-gejala kebangkitannya di era sekarang. Itu sangat terkait dengan kegiatan dakwah karena PKI juga menggunakan sebagian ummat Islam sebagai tameng untuk bersembunyi.

Forum mudzakaroh ini menjadi mimpi para da’i dahulu yang kemudian terealisasi di era saat ini. Da’i lintas gerakan, harokah, ormas bertemu dan berkumpul. Semoga bisa ditindaklanjuti melalui program yang bermanfaat untuk umat. Aamiin.

CJ: Firman Arifin
EDITOR: Iwan Y

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU