
Ketiga, media komunikasi yang semakin hari semakin banyak dan tidak terkontrol. Mulai dari koran dan majalah yang mengupas permasalahan dan gambar yang berhubungan dengan seks. Iklan di televisi yang sangat menonjolkan aurat, konsultasi seks di radio, film bioskop dan VCD porno yang sangat mudah mendapatkannya. Pun media internet yang bisa diakses setiap saat oleh semua lapisan masyarakat.
Keempat, mentalitas jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup (ekonomi). Dengan modal “diri” tanpa ijazah dan keahlian tertentu seseorang sudah bisa dapat duit dengan melacurkan diri. Otomatis dengan menjamurnya praktek dan tempat-tempat maksiat itu merangsang orang untuk mencobanya.
Akibat Penyimpangan Seks
Paling tidak ada dua akibat dari perilaku penyimpangan seks.
Pertama, terjangkitnya virus HIV atau penyakit yang disebut AIDS yang sampai saat ini belum diketemukan obatnya.
Bagi para pelaku free sex ini cobalah berkaca pada Didi Mirhard, seorang foto model yang mengaku menjalankan free sex dan menjelaskan akibat dari perbuatannya (mati karena kena AIDS). Tujuan Didi–yang memulai kehidupannya yang bebas itu semenjak ikut modeling– agar teman-temanya tidak mengikuti langkahnya.
Kedua, keretakan rumah tangga dan kadangkala berakhir dengan proses penceraian karena salah satu atau kedua-duanya terjerat selingkuh. Kalau ini terjadi sangat memberi peluang kepada anaknya untuk berbuat seperti yang dilakukan kedua orang tuanya.

Tulisan ini bagus untuk mematahkan opini sebagian christian yg mengatakan konsep pernikahan monogami dalam agama mereka lebih baik daripada konsep pernikahan monogami dan atau poligami dalam Islam.
Kita bisa bilang pada mereka sekarang bahwa poligami dalam Islam bukan lagi sebagai pilihan antara 2 pilihan tapi bisa saja sebagai salah satu solusi memberantas sekte seks bebas.
Bisa idjelaskan secara spesifik dan lebih detailkah? Locus dan tempus nya dimana & kapan tepatnya terjadi?