Pemilihankan kepala daerah secara serentak kembali akan dilaksanakan tahun 2018.  Berbagai persiapan menghadapi helat demokrasi ini mulai disiapkan.  KPU sebagai panitia telah membuat persiapan baik sarana, perangkat hukumnya maupun tahapan yang akan dilalui agar helat demokrasi ini sukses.  Miliaran biaya dicadangkan agar dana tidak jadi sumber masalah dalam pergelan pemilu. Namun ada sebuah pertanyaan yang menggelitik, ketika helat ini dilaksanakan.  Siapa yang diuntungkan dengan adanya pilkada?

Idealnya demokrasi memberi keleluasaan pada rakyat untuk memilih siapa yang akan memimpinnya.  Rakyat dapat mencalonkan dan menilai siapa yang diperkirakan dapat mewujudkan kesejahteraan yang diharapkan.  Harusnya rakyatpun dapat meminta pertanggungjawaban dan menurunkan kembali pemimpin yang tidak memenuhi harapan mereka.

Namun kenyataan berbicara lain.  Setelah dilakukan pemilihan secara demokrastis, sang kandidat dinobatkan dikursi kebesarannya.  Sebagai orang yang terpilih seharusnya dia merupakan tempat menggantungkan harapan rakyat banyak.   Namun tanpa terasa hampir lima tahun waktu berlalu.  Apa yang telah didapatkan rakyat?  Kenapa angka kemiskinan tidak bergerak turun?  Kenapa kwalitas pendidikan masih belum berobah?  Kenapa jumlah murid yang diterima di perguruan tinggi masih rendah? Kenapa angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi tetap tinggi?  Kenapa gizi buruk masih jadi masalah?.  Kenapa penyakit menular masih menjadi momok kesehatan masyarakat?  Lalu, siapa sih yang diuntungkan dengan adanya pilkada?

Ada 3 komponen yang terkait dengan pilkada.  Komponen tersebut adalah  kandidat yang dicalonkan, tim sukses dan rakyat yang memilih.   Kandidat sering muncul ketika sudah dekat helat akan dilaksanakan.   Setahun sebelum hari H, sang kandidat mulai kasak kusuk.  Sibuk mencari dukungan dan kendaraan yang akan digunakan.  Berbagai sumber dana digali, agar cita-citanya sukses.  Tidak mungkin seorang kandidat akan dapat bergerak jika tidak punya dana.  Minimal biaya tim sukses harus terpenuhi.

Kapan rakyat bisa mengenalnya?  Waktu setahun terasa tidak cukup untuk menilai sang jagoan.  Waktu setahun hanya sama dengan masa pacaran dua sejoli.  Saat pacaran semua terlihat indah dan baik.  Setiap saat bantuan bisa dicairkan.  Setiap waktu kandidat bisa diundang.  Setiap kali kandidat datang, dukungan selalu mengalir seiring dengan bantuan yang diberikan.  Tak ada kejelekan,  perilaku buruk takkan pernah terlihat.  Dari luar nampaknya seorang yang idealis.  Di dalam, siapa yang tahu.

Ketika kursi sudah diraih ( sebagai orang yang normal ) dia akan berfikir, ”Kalaulah tak akan ada margin, minimal modal harus kembali”.  Dari mana sumbernya?  Wallahualam.

Tim sukses, tim yang banyak bergerak mencari dukungan.  Setiap langkahnya harus dibiayai agar semua pekerjaan berjalan lancar.  Sangat tidak mungkin tim sukses bisa sukses jika biayanya tidak dipenuhi.  Jika kandidat kalah bersaing, tim sukes tetap sukses.  Karena dia berhasil mengantarkan jagoannya sampai pintu.  Minimal selama jadi tim sukses dia telah banyak menerima keuntungan.  Hanya karena nasib yang apes menyebabkan kandidat tidak dapat kursi.  Ketika kandidat berhasil, tim suksespun ikut berhasil.  Berbagai kemudahan akan dia peroleh sebagai imbalan balas jasa.  Selama kandidat menjabat, tim suksespun sato sakaki.

Rakyat pemilih, diawal kampanya banyak menerima janji.  Setiap kali pertemuan berbagai ucapan baik dan janji menggiurkan diterima.  Untuk menghangatkan suasana rakyat dapat hiburan gratis dan ada kaos tipis pemberian kandidat. Namanya rakyat, ketika pemilu selesai, mereka akan kembali kehabitatnya.  Petani kembali ke kebun, pedagang kembali ke toko dan seterusnya.

Bagaimana dengan janji yang pernah diterima?  Terserah kepada yang berjanji.  Kalau sempat ditepati, alhamdulillah. Jika tidak ada realisasinya, yah bagaimana lagi.  Kehidupan tetap berjalan bagaikan air mengalir.  Tergantung aliran sungai yang dilalui.  Bertemu lembah, mau tak mau harus diterjuni.  Berhadapan dengan bukit, yah terpaksa berhenti untuk berkumpul.

Rakyat kecil hanya pasrah menerima nasib.  Anak sekolah tetap membayar, walaupun ada dana BOS dan di iklan dinyatakan gratis.  Makan hanya apa adanya, karena tak mampu membeli yang lebih baik.  Alhamdulillah dapat membeli ikan asin, dari pada tidak ada sama sekali.  Pergi berobat walaupun dinyatakan gratis karena ada BPJS, namun ongkos transportasi dan ongkos yang mengantarnya bagaimana?  Orang yang dirawat dapat makan dan obat gratis.  Keluarga yang mengantar apakah harus puasa? Siapakah yang diuntungkan dengan pilkada?  Silakan untuk menilai. (Elfizon Amir)

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama