Sosialisasi Update Tata Laksana Pneumonia kepada Dokter di Wonogiri

16
dr. Ismiranti Andarini dalam pemaparan update tata laksana pneumonia, Rabu, 18/5/2017 (FOTO: SERUJI/Endang)

WONOGIRI – Dalam rangka meningkatkan cakupan pneumonia dan peningkatan kualitas penatalaksanaannya maka Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri mengadakan sosisalisasi Update Tata Laksana Pneumonia kepada dokter, di ruang pertemuan Saraswati Masakan Jawa, Jl. RM Said, Giriwono, Wonogiri, pada Rabu (18/5/2017), dengan menghadirkan narasumber dari Dinkes Provinsi Jateng dan narasumber ahli dari RS dr. Moewardi Surakarta.

“Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru. Pneumonia balita ditandai dengan adanya gejala batuk atau kesukaran bernafas seperti nafas cepat, tarikan di dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK), atau gambaran radiologi foto thorax/dada menunjukkan infiltrat paru akut. Demam bukan merupakan gejala yang spesifik pada balita,” papar dr. Ismiranti Andarini, SpA.

Dokter yang berdinas di RS dr. Moewardi Surakarta tersebut juga menerangkan bahwa dalam penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian ISPA semua bentuk pneumonia seperti bronkopneumonia, bronkiolitis disebut “pneumonia” saja.

Dokter Ismiranti mengingatkan bahwa seorang dokter harus selalu waspada terhadap tanda bahaya setiap pasien anak yang datang dengan keluhan batuk pilek.

“Dan apabila menemukan kasus pneumonia diharapkan penatalaksanaannya disesuaikan dengan update terbaru penatalaksanaan pneumonia, yang sudah tertulis di buku pedoman ISPA terbaru cetakan 2016 yang diterbitkan Kemenkes RI,” jelasnya.

Dalam sosialisasi tersebut juga disampaikan fakta dalam angka balita yang meninggal karena pneumonia, dan langkah-langkah antisipasinya.

“Pada tahun 2015 di dunia ada 5,9 juta balita meninggal dan 15 persen diantaranya disebabkan pneumonia. Target MDGs_4 adalah mereduksi 2/3 kematian bayi dan balita pada akhir tahun 2015, dilanjutkan SDGs 2030,” ungkap analis pengendalian penyakit dari Dinkes Provinsi Jateng Yekti Irmawanti.

Yekti menyampaikan lebih lanjut bahwa Dinkes Provinsi Jateng melalui subdin P2-ISPA menjadikan penemuan dan tatalaksana kasus pneumonia dengan pendekatan keluarga sebagai prioritas dalam program kerjanya. Tahun 2017 ini ditargetkan cakupan penemuan balita pneumonia sebesar 70 persen.

Dalam acara tersebut juga dibuat kesepakatan diantara peserta yang hadir untuk lebih intensif lagi dalam melakukan upaya promotif kepada masyarakat untuk pencegahan dan kewaspadaan dini terhadap penyakit ini sehingga masyarakat faham akan bahaya pneumonia dan tidak menunda dalam membawa ke dokter.

Dengan adanya kerjasama yang baik antara masyarakat dan dokter diharapkan ke depan angka kematian balita akibat penyakit ini bisa semakin menurun. (dr. Endang Sulistyowati)

 

EDITOR: Iwan Y

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama