Dibanding Sistem 3M, Fogging Dinilai Tak Efektif Berantas DBD

0
138
  • 6
    Shares
nyamuk demam berdarah
Petugas melakukan fogging (pengasapan) guna memberantas nyamuk demam berdarah (ilustrasi).

TARAKAN, SERUJI.CO.ID – Pemerintah Kota Tarakan, Kalimantan Utara menilai program “fogging” atau pengasapan tidak efektif memberantas penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tarakan Witoyo lewat telepon, Kamis (12/10), penurunan kasus DBD itu terjadi karena program 3M (menutup, menguras dan mendaur ulang) plus yang dilakukannya.

Ia menegaskan, pemberdayaan masyarakat dan sosialisasi sistem 3M selama ini dianggap paling efektif dibandingkan dengan “fogging” atau pengasapan.

Loading...

Menurut Witoyo, pengasapan mengandung zat kimia, sehingga pelaksanannya tidak bisa sembarangan atau harus terjadwal. “Fogging” hanya dapat dilakukan apabila ditemukan kasus penularan penyakit DBD.

Penurunan kasus DBD tersebut tidak terlepas dari kesadaran masyarakat di daerah itu untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal masing-masing menggunakan 3M tersebut.

Hanya saja, dia tidak menyebutkan angka penurunan dimaksudkan dengan perbandingan tahun 2016 ke bawah. Witoyo lebih banyak mengupas soal “fogging” yang dianggap tidak efektif itu.

“Penggunaan fogging tidak bisa dilakukan tanpa ada laporan kasus DBD. Karena fogging atau pengasapan ini hanya dilakukan apabila terjadi penularan,” kata dia lagi.

Langkah lainnya yang dilakukan menurunkan kasus DBD di daerahnya, Witoyo menyebutkan, akan mendistribusikan cairan Bacilus Thuringiensis Israelensis (BTI) yang bertujuan membunuh jentik nyamuk.

Cairan ini juga dinilai sangat tepat memberantas nyamuk dengan membunuh jentiknya sehingga manusia aman. Pendistribusian BTI ini akan dilakukan pada Oktober 2017 dengan fokus pada wilayah yang belum terjangkau air PDAM. (Ant/SU02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU