Ada orang tua yang tidak bersedia anaknya diimunisasi berkata, “semua anak saya tidak saya imunisasi, tapi sehat saja.” Tahukah Anda bahwa tidak terjangkitnya penyakit pada anak yang tidak diimunisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh jasa mereka yang bersedia diimunisasi? Begini penjelasannya.
Imunisasi wajib yang diterapkan pemerintah bertujuan untuk memberikan kekebalan pada penyakit hepatitis B (liver), polio, diptheri, pertusis, tetanus, meningitis, campak serta mengurangi tingkat keparahan penyakit TBC (khusus imunisasi BCG belum mampu pada taraf memberikan kekebalan dari penyakit TBC, hanya mampu untuk mengurangi tingkat keparahan).
Hal di atas merupakan intermediate goal dari program imunisasi. Bila sudah banyak orang yang mempunyai kekebalan terhadap penyakit seperti tersebut diatas maka akan semakin sedikit jumlah orang yang terjangkit penyakit-penyakit tersebut yang dalam istilah epidemilologi disebut terjadi penurunan prevalensi penyakit.
Semakin banyak orang yang mempunyai kekebalan maka semakin sedikit ruang bagi virus maupun kuman untuk berkembang biak. Nah disinilah letak jasa para orang tua yang bersedia mengvaksinasikan anaknya. Karena bagi mereka yang belum divaksinasi akan diuntungkan oleh situasi kecilnya ruang berkembang biak kuman tersebut.
Seandainya banyak orang tua yang tidak bersedia anaknya divaksinasi maka ruang berkembang biak virus masih luas maka dimungkinkan mereka yang tidak diimunisasi akan mudah terserang penyakit, sementara yang sudah diimunisasi tetap tidak terjangkit sebab tubuhnya sudah mempunyai kekebalan.
Beruntungnya di Indonesia hanya sedikit orang tua yang tidak bersedia anaknya divaksinasi sehingga tujuan imunisasi masih bisa dicapai. Bahkan ada beberapa penyakit yang sudah mencapai tahap eradikasi (punah) dari Indonesia yaitu cacar, polio, tetanus neonatorum (tetanus pada tali pusat bayi yang baru lahir). Eradikasi penyakit merupakan final goal dari program imunisasi.
Meskipun begitu patut dikritisi adanya kampanye anti vaksinasi yang diamini oleh kalangan terpelajar dan ada juga yang dari kalangan artis. Diharapkan semoga gerakan anti vaksinasi ini tidak semakin meluas. Sebab bila gerakan ini meluas tidak menutup kemungkinan penyakit-penyakit yang sudah jarang muncul seperti diptheri dan pertusis akan meluas lagi.
Terkait penyakit campak
Anak terlahir sudah mempunyai kekebalan terhadap penyakit campak yang didapatkan dari ibunya pada waktu masih di kandungan (apabila ibunya sudah mempunyai kekebalan tentunya). Namun kekebalan ini tidak bertahan seumur hidup. 90% anak pada umur 9 bulan sudah kehilangan kekebalan ini, maka pada umur 9 bulan dijadwalkan untuk imunisasi campak.
Pertanyaan yang sering muncul adalah anaknya sudah diimunisasi campak tapi kok masih terserang campak? Ingat! pada umur 9 bulan masih ada 10% anak yang masih mempunyai kekebalan alami terhadap penyakit campak dari ibunya. Ketika anak masih dalam kondisi mempunyai kekebalan alami kemudian divaksinasi campak maka vaksinasi tersebut tidak efektif. 10 % anak ini suatu saat akan kehilangan kekebalan alaminya sehingga bisa terjangkit penyakit campak.
Usaha untuk mengantisipasi hal ini maka dibuat jadwal imunisasi campak lagi pada anak umur 2 tahun dan pada kelas 1 SD. Alasan ditentukan jadwal imunisasi ulang pada umur 2 tahun karena pada umur ini sudah 100% anak yang kehilangan kekebalan alami dari ibunya. Kelemahan dari kebijakan ini adalah tidak bisa memproteksi anak yang kehilangan kekebalan alami dari ibu pada umur 10-23 bulan.
Bagi wanita kekebalan terhadap penyakit campak bisa diwariskan kepada bayi yang dilahirkannya kelak.
PENULIS: dr. Endang Sulistyowati
EDITOR: Iwan Y

Bagaimana pandangan imunisasi dalam islam.? Bagaimana sebenarnya kehidupan islami dulu sebelum datang konsep imunisasi? Bukannya dalam pembuatan vaksin ada penggunaan unsur babi dalam katalisatornya?
Muslim baiknya tidak latah mengikuti semua agenda/program dari barat. Rujukan awal harusnya cari referensi dari Islam. Karena saya ragu semua konsep yg datang dr barat adalah upaya sistematis mematahkan dan menengelamkan konsep islam.
Seperti konsep baru yang ditawarkan barat dalam pendidikan dimana aktivitas hafalan tidak baik untuk anak2. Ini kan konsep yang ingin mematahkan konsep pendidikan islam yg salah satunya memanfaatkan potensi hafalan quran pada masa golden age (anak2).