Pakistan dan Afghanistan Adu Klaim Soal Jumlah Korban Dalam Kontak Senjata


KABUL – Pakistan dan Afghanistan mengeluarkan pernyataan berbeda mengenai jumlah korban dalam kontak senjata buntut dari penembakan ke petugas sensus Pakistan oleh prajurit Afghanistan, pada Jumat, 5/5/2017.

“Kami tidak senang untuk mengatakan bahwa (dalam serangan balasan) kami telah menewaskan 50 tentara Afghanistan dan menghancurkan 5 check point mereka,” ucap pimpinan pasukan perbatasan paramiliter Pakistan Mayor Jenderal Nadim Ahmed, yang dilansir dari Al-Jazeera (8/5).

Hal tersebut kemudian dibantah juru bicara Pemerintah Afghanistan di Kabul, Seid Sediqqi, yang mengatakan bahwa jumlah korban jiwa di pihak mereka hanya 4 orang polisi.

Benturan yang terjadi di perbatasan provinsi Balochistan (Pakistan) dan Kandahar Selatan itu turut mengakibatkan korban jiwa dari masyarakat sipil, paling sedikit 1 warga Afghanistan, dan 7 warga Pakistan, menurut klaim masing masing pihak.

Adanya korban dari warga sipil Pakistan inipun ditolak oleh pihak Afghanistan.

Pakistan, yang sedang melakukan sensus nasional pertama sejak 1998, banyak mengirimkan petugas sensus ke area perbatasan dengan negara tetangga, termasuk Afghanistan. Kehadiran mereka dikawal oleh pasukan militer.

Namun, pertentangan tentang batas wilayah Pakistan-Afghanistan sepanjang 2600 km, sering disebut sebagai Durand Line, tidak kunjung tuntas. Hal ini telah mengakibatkan dugaan pelanggaran batas wilayah petugas Pakistan, yang kemudian memicu kontak senjata.

“Penembakan dilakukan pertama kali oleh Afganistan tanpa sebab, kami terpaksa membalas,” ujar Nadim. Yang langsung diklarifikasi oleh pihak Afganistan bahwa militer Pakistan dan petugas sensusnya telah melanggar batas kedaulatan.

 

CJ: M. Gauzal Asnawi
EDITOR: Iwan Y

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close