Kekuatan Minoritas: Bagaimana Alawite Mengambil Suriah (Understanding Aleppo-Part 2)

0
49

Jakarta, Seruji.com– “Taqiya is the most important Tenet of the Alawite religion; one can and should lie about one’s faith”

Tulisan ini saya buat sebagai penyeimbang, agar rekan-rekan yang termakan propaganda Syiah dapat melihat dengan lebih jernih. Islam itu tegas dalam membedakan antara yang haq dan yang batil. Hitam atau putih. Tidak ada yang abu-abu. Sejarah berulang, bacalah dan ambil hikmahnya, agar sejarah berdarah bangsa Suriah yang dipimpin oleh minoritas -yang mengaku bagian dari umat, namun perilakunya justru menunjukkan kebencian yang amat terhadap Islam, diperparah dengan kedekatan dengan Komunis Rusia dan Syiah Iran- tidak berulang di Indonesia.

Beberapa orang mengingatkan saya,”Kamu sudah siap dibully oleh kaum Sepilis, Liberal, Syiah atau Susyi (Sunni pecinta Syiah)?” Saya hanya tersenyum, sambil mengingat-ingat nasihat ibu semasa kecil: Katakanlah yang benar itu benar dan yang salah itu salah, dengan iman dan nurani sebagai pembeda.

Bismillah…

Timur Tengah Pasca Perang Dunia I

Prancis dan Inggris yang sedianya akan membagi dua kawasan Timur Tengah, harus menelan kekecewaan, karena Mustafa Kemal Ataturk mendirikan Republik Turki dari reruntuhan kerajaan Ottoman, dan menguasai sebagian wilayah yang diperebutkan antara Prancis dan Inggris. Namun demikian,  bekas wilayah kerajaan Ottoman di jazirah Arab harus direlakan oleh Turki.

Di masa itu, Inggris mengambil alih wilayah Irak, Yordania, Palestina, semenanjung Arab dan Mesir. Prancis mendapat jatah lebih sedikit, karena kehilangan wilayah Turki tadi. Lebih jauh lagi, Inggris mengkhianati perjanjian Sykes-Picot, dengan mencaplok wilayah Irak Utara, yang sedianya menjadi milik Prancis. Inggris juga mengambil alih Palestina, yang seharusnya berada di bawah pemerintahan koalisi Inggris-Prancis. Sejarah mencatat, Inggrislah yang kemudian menyerahkan wilayah Palestina kepada Yahudi dari benua Eropa.

“Minority Politics” yang dianut Prancis sehingga menganakemaskan Alawite sebagai kelompok minoritas, bukan merupakan satu-satunya alasan. Ada motivasi lain yang bersifat spiritual di masa itu, pemerintah Inggris dan Prancis percaya bahwa Alawite berakar pada ajaran Masonry, jika pun tidak, Alawite sebagai suatu kelompok rahasia sangat prospektif untuk dijadikan antek-antek kelompok Freemasons.

Diskusi mengenai Alawite bisa jadi tak berkesudahan. Tak kurang dari Ibn Shahr Ashub, seorang teolog dari abad ke-12 menyatakan bahwa Alawite adalah ajaran nihilistik yang tidak mengindahkan ajaran dan ritual Islam, serta mengizinkan perilaku amoral, sesat dan terlarang. Di abad ke-14, Sheikh al-Islam Ibn Taymiyya membuat pernyataan tegas bahwa bahwa orang-orang Nosairi (nama lain dari sekte Alawite) dan Qaramita, lebih sesat dibandingkan Yahudi dan Nasrani sekaligus, bahkan lebih sesat jika dibandingkan ajaran politeisme mana pun. Bahkan dalam kondisi perang sekali pun, ajaran Islam melarang untuk menyakiti wanita dan anak-anak, sebaliknya yang terjadi di Suriah saat ini, masyarakat sipil termasuk anak-anak dan wanita, justru menjadi sasaran tembak.

Kemerdekaan Suriah

Pada tahun 1946, Suriah memperoleh kemerdekaannya. Namun seperti halnya negara eks-kolonial yang baru merdeka, Suriah menghadapi isu perpecahan dan pemberontakan. Upaya kudeta berdarah dipimpin oleh Sulayman al-Murshid, salah satu dari keenam pimpinan Alawite yang membuat petisi pada tahun 1936 kepada PM Prancis Leon Blum. Pemberontakan ini berhasil digagalkan sehingga Sulayman al-Murshid dihukum mati. Pemberontakan bersenjata berikutnya dipimpin oleh putra al-Murshid pada tahun 1952, namun juga berhasil dipadamkan. Dua tahun kemudian, pemberontakan oleh kaum Druze kembali digagalkan, dan kedamaian sempat terjadi di Suriah untuk sementara waktu.

Pada tahun 1963, fakta yang ironis terjadi dalam sejarah Suriah. Minoritas sekte Alawites berhasil mengambil alih pemerintahan, dan menguasai Suriah hingga detik ini. Pertanyaannya: Bagaimana ini bisa terjadi? Minoritas Syiah Alawite memimpin di negara yang rakyatnya terdiri dari 70% Muslim Sunni?

Catatan sejarah mengenai militer Suriah di tahun 1949 menguak kebenaran satu per satu. Catatan itu menunjukkan bahwa semua unit penting di militer, berada di bawah kepemimpinan individu yang berasal dari kelompok minoritas. Bahkan setelah Suriah merdeka, minoritas Alawite terus mendominasi militer Suriah. Laporan dari Kolonel Abd al-Hamid al-Sarraj, seorang Sunni, pada tahun 1955, menunjukkan bahwa 65% dari personel militer Suriah berasal dari minoritas Alawite.

Di masyarakat sipil, Partai Baath (Renaissance), terus menancapkan kukunya dan semakin menguatkan kekuasaan minoritas Alawite. Partai ini didirikan di Damaskus pada tahun 1940, oleh Michel Aflaq, seorang saudagar kaya raya dari Kristen Ortodoks, dan Salah al-Din Bitar, seorang Muslim Sunni. Kedua founding fathers ini mengenyam pendidikan di University of Paris, di mana mereka mendapat doktrin teori sosial radikal yang digunakan Prancis untuk mempertahankan kekuasaannya di masyarakat tradisional. Visi dan misi dari Partai Baath adalah menyatukan jazirah Arab, dari Maroko sampai ke Irak, dalam satu masyarakat sosialis dan sekuler.

Politik di Suriah sangat keras dan penuh konflik, seperti halnya politik negara-negara Arab lainnya. Pada tahun 1952, kepemimpinan Gamal Abdel Nasser di Mesir seakan membawa harapan baru di Timur Tengah. Dengan dukungan pemerintahan Eisenhower, Mesir berhasil mengalahkan kekuatan militer gabungan Inggris, Prancis dan Israel pada saat krisis Suez di tahun 1956. Pada tahun 1958, Suriah bergabung dengan Mesir membentuk United Arab Republic. Namun Republik gabungan ini gagal berfungsi, sehingga pecah kongsi saat kudeta militer di Suriah di tahun 1961. Partai Baath, mengambil alih kekuasaan pada tahun 1963, membuka jalan bagi Hafez al-Assad untuk berkuasa.

Hafez al-Assad menggunakan Partai Baath sebagai kendaraan politiknya pada tahun 1947. Kariernya terus menanjak, dengan terpilih sebagai presiden persatuan pelajar Suriah, organisasi yang berskala nasional. Assad kemudian bergabung dalam militer Suriah, dan dikirim ke Mesir untuk pelatihan lanjutan di Angkatan Udara. Pada tahun 1959, Hafez al-Assad, bersama empat rekannya, membentuk Komite Militer, suatu kelompok rahasia di dalam Partai Baath. Anggota lainnya adalah Salah Jadid (yang selanjutnya menjadi presiden Suriah) dan Muhammad Umran, keduanya Alawite serta Abd al-Karim al-Jundi dan Ahmad al-Mir, keduanya Ismaili.

Namun demikian, blueprint kudeta tidak dibuat di markas besar Partai Baath, melainkan di desa Qardaha, tempat keluarga Assad berasal. Pertemuan tersebut dihadiri Assad, Jadid dan Umran. Langkah pertama yang dilakukan adalah memperkuat dominasi Alawite di dalam Partai Baath. Para tetua Alawite memutuskan untuk menganugerahkan Umran ranking Bab, tingkat tertinggi dalam sekte Alawite; sementara Jadid ranking Naqib. Pada pertemuan lanjutan di tahun 1963, Jadid ditunjuk untuk bertanggung jawab memimpin Alawite dalam bidang militer, sehingga kemudian Assad dianugerahi ranking Naqib.

Tak lama berselang, Partai Baath secara sistematis mengeluarkan Muslim Sunni dari jajaran pengurus partai. Muslim Sunni, yang masih merupakan mayoritas, mengalami diskriminasi luar biasa, ditolak dalam rekruitmen personel militer Partai Baath, dan rekruitmen agen rahasia, sementara Alawite, Druze, Ismaili dan Kristen Orthodox mendapat posisi dan perlakuan khusus. Kedudukan Muslim Sunni dalam militer Suriah terus dilemahkan dengan dimutasikan ke posisi-posisi yang tidak strategis, atau pun menjadi bawahan dari Syiah Alawite.

Pada tahun 1966, Alawite sudah sangat kuat, sehingga melakukan kudeta berikutnya. Hafez al-Assad menjadi menteri pertahanan. Segera saja, Assad dan Jadid, menjadi duo paling berkuasa di Damaskus. Namun tidak boleh ada dua nahkoda dalam satu kapal, sehingga terjadi perseteruan antara Jadid dan Assad mengenai siapa yang seharusnya memegang kekuasaan penuh. Jadid sendiri berhaluan kiri, dengan terus merapat ke Uni Sovyet, dalam upaya transformasi Suriah menjadi masyarakat sosialis.

Perang Arab-Israel seputar terusan Suez kembali berulang pada tahun 1967. Kali ini, Amerika bersekutu dengan Prancis, Inggris, dan Israel, melawan Mesir yang dipimpin Gamal Abdel Nasser. PM Israel saat itu, Levi Eshkol, sebenarnya enggan untuk berperang habis-habisan melawan Mesir, namun akhirnya beliau dikudeta oleh Partai Perang Israel pimpinan Simon Perez dkk. Israel melakukan serangan mendadak terhadap Mesir pada tanggal 5 Juni 1967.

Dalam serangan tersebut, selama 22 jam pertama yang sangat kritis dan menentukan, Assad menolak mengambil tindakan apa pun terhadap Israel. Assad tidak menghiraukan permohonan bantuan militer dari Mesir, bahkan berdiam diri saat Angkatan Udara Israel secara sistematis membombardir pangkalan tempur Yordania dan Mesir. Bahkan, Assad tidak mengambil tindakan apa pun guna menyelamatkan Angkatan Udara Suriah sendiri, yang akhirnya juga turut dihancurkan Israel.

Walau pun telah kehilangan kekuatan angkatan udara, Assad sebenarnya tetap dapat mengirim pasukan darat saat tentara Israel terjebak dalam pertempuran di selatan. Juga, Suriah sebenarnya dapat menjaga Dataran Tinggi Golan dari invasi Israel. Namun, yang terjadi adalah, tepat satu hari sebelum Israel menyerang Dataran Tinggi Golan, Rifaat, saudara kandung Hafez al-Assad dan Izzat, saudara Salah Jadid, memutuskan untuk membawa pasukan dan tank-tank mereka kembali ke Damaskus. Hari berikutnya, tentara Israel mennyerang. Tak lama, radio Damaskus mengumumkan kekalahan, Golan telah dikuasai Israel.

Perilaku Assad yang aneh saat perang Arab-Israel tentu mengundang pertanyaan. Jawabannya terkuak saat mantan duta besar Suriah untuk Prancis, Sami al-Jundi, diwawancarai oleh al-Hawadith pada tahun 1968. Al-Jundi berkata bahwa dua minggu sebelum perang meletus, dia bertemu dengan Mentri Luar Negri Israel Abba Eban di Paris. Eban meyakinkan Suriah bahwa tentara Israel tidak akan bergerak melewati Dataran Tinggi Golan, walau pun jalan ke Damaskus sudah terbuka. Konspirasi antara Hafez al-Assad dengan Israel terus berlanjut, saat dia menunjukkan dukungan saat Israel membantai rakyat Palestina di Yordania pada tahun 1970, peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Black September Massacre.

The Narco-history and Narco-terrorism

Pada tanggal 23 November 1992, the House Subcommittee on Crime and Criminal Justice di Amerika mengeluarkan laporan preeliminari, yang berjudul, Syria, President Bush and Drugs – The Administration’s Next Iraqgate. Laporan tadi berdasarkan pada informasi rahasia, yang menuduh Bush secara sistematis menghilangkan jejak pemerintahan Suriah dalam menjadikan Lebanon sebagai pusat perdagangan narkotika internasional.

Laporan tersebut menyatakan bahwa tingkat korupsi terkait narkotika dan obat terlarang di Suriah tidak hanya melibatkan perwira militer berpangkat rendah. Sumber terpercaya menyatakan bahwa Rifaat, saudara kandung Presiden Suriah Hafez al-Assad; Menteri Pertahanan Suriah Mustafa Tlass; Komandan Badan Intelijen Militer Suriah, Jenderal Ali Dubah; Komandan Badan Militer Suriah perwakilan Lebanon, Jenderal Ghazi Keenan; Para perwira tinggi Suriah ini memiliki hubungan yang erat dan mengikat dengan bandar besar narkotika di luar Lebanon.

Pada tahun 1980, George Bush menyerahkan kekuasaan atas Lebanon ke tangan Hafez al-Assad sekaligus melindungi bisnis narkotiknya. Tak lama berselang, produksi narkotika Lebanon meroket, mencapai 900 metrik ton Hashish dan 4,5 metrik ton heroin per tahun. Pada tahun 1989, setengah dari total Hasish (mariyuana konsentrasi tinggi) yang beredar di seluruh dunia, berasal dari Lebanon. Potensi keuntungan yang diperoleh Suriah dari bisnis narkotika kala itu mencapai 7,9 milyar USD, di saat bersamaan total nilai ekspor Republik Suriah keseluruhan hanya sebesar 1,6 milyar USD. Dan bisnis barang haram ini tidak dilakukan secara diam-diam. Setiap musim panen, koran-koran utama Beirut akan mempublikasikan harga lokal dan internasional komoditas Hashish, Opium dan Heroin.

Laporan dari the Lebanese Narcotics Authority, suatu institusi independen menunjukkan angka-angka yang mencengangkan. Sekitar 40% dari total keuntungan penjualan narkotika masuk ke kantong Badan Intelijen Militer Suriah. Sebanyak 45% lainnya digunakan untuk membiayai jaringan penyelundupan narkotik yamg dikelola oleh militer Suriah (yang seringkali bekerja sama dengan organisasi teroris sebagai pengedar), bahkan membiayai kamp pelatihan teroris. Assad dengan liciknya memanfaatkan situasi Timur Tengah yang tidak aman, bahkan berusaha mensuplai kelompok-kelompok teroris agar perang antar etnis dan agama terus berkecamuk.

Sebagai contoh, Assad memberikan hak kepada Hezbollah, organisasi Syiah yang didirikan Suriah dan Iran, untuk mengelola perkebunan Opium di daerah Nabi Chit dan Hermel. Rifaat, saudara Assad bahkan menyediakan tentara bayaran untuk menjaga perkebunan tersebut. Berdasarkan laporan dari Subcommittee on Crime and Criminal Justice tadi, keuntungan yang diraup Hezbullah dari perdagangan narkotika mencapai 100 juta USD pada tahun 1992.

Fakta lain yang tak kalah mengejutkan, diungkap oleh seorang polisi Jerman, dalam bukunya, Godfather of Terror. Penulis buku ini membahas mengenai sosok Monzer al-Kassar dan saudaranya Ghassan, yang merupakan tangan kanan rezim Suriah dalam peredaran narkotika skala internasional. Pada tahun 1984, Drug Enforcement Administration (DEA) atau Badan Narkotika Amerika, mengungkap keterlibatan jaringan al-Kasser dalam peredaran narkotika di Prancis, Itali dan Spanyol. Namun demikian, dokumen intelijen menunjukkan bukti hubungan bisnis antara George Bush dengan al-Kassar, dalam penjualan senjata berat dan alat perang produksi Amerika ke Iran dan kelompok teroris Contrast.

Jaringan penjualan senjata dan alat perang tersebut melibatkan banyak nama-nama lain, seperti Mayjend (purn) Richard Secord dan mantan pejabat CIA, Thomas Cline bahkan penulis naskah kampanye Presiden Bush, Theodore G. Shackley. Beberapa perusahaan yang berafiliasi ke SAS (Spesial Air Service), komando “anti teror”pemerintah Inggris juga dilaporkan terlibat dalam bisnis senjata ilegal ini.

Sebuah penyelidikan pada tahun 1987 terhadap Firma Borletti, perusahaan Itali yang diduga menjual senjata ke Iran, membuka fakta bahwa Firma tersebut dikontrol oleh perusahaan Bovega, atas nama Monzer al-Kassar,  namun pemilik sebenarnya adalah Rifaat al-Assad dan putranya Firaas al-Assad. Namun penyelidikan dihentikan saat bukti-bukti mengarah ke George Bush sebagai sumber utama penyuplai senjata. Setahun kemudian terjadi pembajakan maskapai Pan Am 103 dengan Monzer al-Kassar dicurigai sebagai dalang utama.

Syiah… Komunis… Narkotika… Teroris… Kepala saya tiba-tiba terasa berat. Can you see it? Can you connect the dots? (yogi prawira/bersambung)

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Terbaru

trump, kim jong un

Trump Akan Tambah Sanksi untuk Tekan Korea Utara

NEW YORK - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, Kamis (21/9), AS akan mengeluarkan lebih banyak sanksi terhadap Korea Utara. Sementara itu, sekutu-sekutu AS menginginkan...
rumah sakit

Bayi Yang Ditahan Rumah Sakit Karawang Meninggal Dunia

KARAWANG - Bayi laki-laki dari pasangan Ny Heni Sudiar dan Manaf yang sempat ditahan Rumah Sakit Intan Barokah, karena tidak mampu membayar tagihan biaya...

Zulkifli: Umat Islam Potensi Kekuatan Ekonomi Politik

MAGELANG - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan penduduk Indonesia mayoritas Islam merupakan potensi yang sangat besar untuk dikonversi menjadi kekuatan ekonomi dan politik...

Polisi Amankan Pemuda Mengamuk di Liponsos Surabaya

SURABAYA - Kepolisian Sektor (Polsek) Sukolilo Surabaya mengamankan seorang pemuda berusia 28 tahun yang mengamuk di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Sukolilo Surabaya. Kepala Unit Reserse...

Polisi Selidiki Senpi Yang Dititipkan ke Rumah Warga

PEKANBARU - Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, Riau, menyelidiki temuan senjata api (senpi) genggam semiotomatis jenis FN kaliber 9 milimeter yang ditipkan oleh orang tak...

Empat Tersangka Kasus Perkelahian ala ‘Gladiator’ Terancam 15 Tahun Penjara

BOGOR - Empat orang tersangka kasus "gladiator" yang menewaskan seorang siswa SMA Budi Mulya Kota Bogor, Jawa Barat telah ditangkap, keempatnya terancam hukuman 15...