Quiet Quitting Gen Z: Bukan Malas, Tapi Sadar Diri

JAKARTA, SERUJI.CO.IDQuiet quitting Gen Z bukan fenomena asing lagi di Indonesia. Istilah yang viral sejak 2022 ini menggambarkan karyawan yang hanya mengerjakan tugas sesuai deskripsi pekerjaan, tidak lebih, tidak kurang, tanpa inisiatif tambahan, keterlibatan emosional, maupun komitmen di luar jam kerja.

Dan data 2026 menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sedang mereda, justru semakin meluas.

Angka yang Bicara: Gen Z Paling Banyak Lakukan Ini

Riset ZipDo 2026 memberikan gambaran yang sangat jelas. Sekitar 60% Gen Z mengaku pernah atau sedang melakukan quiet quitting, angka tertinggi dibanding generasi mana pun. Milenial berada di angka 55%, sementara Baby Boomers 45%.

Yang lebih mengejutkan: 68% dari mereka yang quiet quitting menyebut “lack of work-life balance” sebagai alasan utama. Bukan karena malas. Bukan karena tidak kompeten. Tapi karena kelelahan yang tidak diakui oleh sistem kerja yang mereka masuki.

Laporan Randstad Workmonitor 2025 menambahkan: 1 dari 3 pekerja Indonesia pernah berhenti dari pekerjaan karena nilai-nilai pribadinya tidak sejalan dengan budaya perusahaan. Ini bukan statistik karyawan yang tidak loyal, ini karyawan yang tahu apa yang mereka butuhkan.

Apa Sebenarnya Quiet Quitting?

Quiet quitting bukan berarti resign diam-diam. Karyawan tetap hadir, tetap mengerjakan tugas utama, tapi mereka berhenti memberikan “lebih”. Tidak ada lembur sukarela, tidak ada inisiatif di luar job description, tidak ada antusiasme palsu di rapat yang tidak perlu.

Harvard Business Review menggambarkannya sebagai kondisi di mana karyawan tidak lagi memberikan upaya dan energi di atas ekspektasi. Zaid Khan, insinyur asal New York yang mempopulerkan istilah ini via TikTok 2022, mengatakannya dengan lugas: “Kamu masih melakukan tugasmu. Tapi kamu tidak lagi menganut hustle culture secara mental bahwa pekerjaan adalah hidupmu.”

Kenapa Gen Z Paling Rentan?

Ada beberapa alasan struktural mengapa Gen Z menjadi generasi paling banyak melakukan quiet quitting:

Tumbuh dengan narasi kesehatan mental yang kuat. Gen Z adalah generasi pertama yang dibesarkan dengan diskursus terbuka tentang burnout, anxiety, dan work-life balance. Ketika mereka mengalaminya sendiri, mereka punya nama untuk kondisi itu — dan berani mengambil langkah protektif.

Pandemi mengubah cara mereka memandang kerja. Sistem WFH dan hybrid selama pandemi mengaburkan batas antara kantor dan rumah. Ketika beban kerja meningkat tanpa kompensasi yang sepadan, banyak yang mulai mempertanyakan: untuk apa memberikan lebih?

Jenjang karier yang tidak jelas. Gen Z menginginkan jalur karier yang transparan. Ketika perusahaan tidak bisa memberikan kejelasan itu, quiet quitting menjadi respons logis terhadap stagnasi yang tidak mereka inginkan.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER