RS Indonesia di Myanmar Masuki Tahap Pembangunan Rumah Dokter dan Perawat

0
84
Tim relawan Mer-C yang berangkat ke Myanmar
Tim relawan Mer-C yang berangkat ke Myanmar, di Jakarta, Senin, 23/10/2017. (Foto: Achmad/SERUJI)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Dua relawan teknis MER-C, yaitu Idrus M. Alatas dan Rizal Syarifuddin bertolak ke Yangon, Myanmar, Senin (23/10).

Mereka selanjutnya akan terbang ke Sittwe dengan maskapai lokal. Dari ibukota Rakhine State ini, tim akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi pembangunan RS Indonesia dengan jarak tempuh sekitar 3,5 jam.

Tim ini juga sempat tertunda selama dua pekan lantaran tidak mengantongi izin dari Kementerian Luar Negeri, Myanmar.

Proses izin yang cukup lama ini menyusul situasi di Rakhine State yang memanas pada akhir Agustus 2017 lalu.

Idrus yang merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C sekaligus Penanggung jawab Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar mengatakan bahwa tujuan kunjungan kali ini adalah untuk melakukan pengukuran dan penentuan titik-titik bangunan kompleks RS Indonesia. Pengukuran akan dikerjakan bersama dengan kontraktor lokal pemenang tender.

“Sekaligus menentukan titik-titik seluruh bangunan yang akan berada di dalam kompleks RS Indonesia,” terang Idrus, di Jakarta, Senin (23/10).

Setelah proses pengukuran ini, mereka berharap Rakhita Ah Linn, kontraktor lokal yang ditunjuk untuk pembangunan RS Indonesia di Myanmar itu bisa segera memulai membangun rumah dokter dan rumah perawat. ā€ˇSehingga, tender tahap III untuk membangun bangunan utama RS Indonesia bisa segera terwujud.

“Target penting kami lainnya adalah untuk pra tender pembangunan tahap tiga dengan beberapa calon kontraktor lokal. Sehingga setelah pembangunan rumah dokter dan perawat selesai kami harap bisa segera dilanjutkan dengan pembangunan bangunan utama rumah sakit,” imbuhnya.

Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State.

Setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai pada Mei 2017. Hal ini berkat inisiasi dari Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan.

MER-C sendiri telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. (Achmad/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU