Faisal Basri: Retail Mati, Mati Saja!

4
999
Faisal Basri
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri, di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (30/10/2017). (Foto:Achmad/SERUJI)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Penurunan daya beli masyarakat membuat bisnis retail kelimpungan. Bahkan, beberapa perusahaan sudah menutup gerainya.

Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan retail rontok. Namun, Faisal justru tak ambil pusing dengan matinya ritel.

“Yang mati silakan mati. Ikhlaskan yang mati itu,” kata Faisal di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (30/10).

Loading...

Menurut Faisal matinya sejumlah perusahaan ritel sebenarnya sangat ilmiah. Mereka gagal dan terlalu lama di zona nyaman, padahal dunia terus berubah.

“Kan gini ya, pertumbuhan ritel selama ini yang beli ya itu-itu juga. Pertama over suplay, jadi proses seleksi alamiah saking banyaknya, 1, 2 rontok,” kata dia.

Kondisi seperti ini, kata Faisal, tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di Inggris juga sama. Karena itu, ia tak sepakat penutupan berbagai gerai ritel tidak serta merta mencerminkan penurunan daya beli.

“Tapi yang namanya pengusaha, Anda lihat sendiri, agresifnya melampau batas-batas akal sehat. Dalam sekejap dimana-mana 7-Eleven, pertumbuhannya terlalu cepat, tapi rakyat tidak terlalu cepat pertumbuhan daya belinya. Ya akhirnya selesai secara alamiah. Ada yang ditutup, ada yang tutup total, ada yang reposisi,”‎ kata Faisal.

loading...

4 KOMENTAR

  1. Kami skrg lebih memilih belanja ke pasar tradisional atau warung tetangga saja. Ekonomi jadi lebih merata, tidak menumpuk di kantong para Taipan pemilik retail raksasa.

  2. Kebijakan perekonomian kalau didasarkan analisa waton dari ekonom atau pengamat bakal bikin negeri ini makin nyungsep, rontoknya ritel itu disebabkan penurunan daya beli tapi penguasa dan ekonom pendukungnya ngotot karena perubahan pola belanja masyarakat, data th 2016 e commerce itu hanya menyumbang kurang dari 1% dari penjualan sektor industri ritel jadi mimpi disiang bolong rontoknya dunia ritel akibat e commerce.

  3. Tidak bisa rasis bung, yg mati tidak pilih -2 milik china atau pribumi.Yg tdk matang perencanaannya tdk mampu bersaing akan tutup,sdh sunatullah.Hanya tugas negara adalah melindungi seluruh wn dan memberikan kesejahteraan umum ,mengangkat harkat.dan martabat rakyatnya dan mensejahterakan dg berkeadilan.Yg terlalu kaya harus direm yg lelet dan rendah daya beli dan sdm nya harus didorong dan dibina,dimudahkan akses-2 perbankan dan distrbusi.

  4. Saya setuju. Bahkan menurut saya retail itu mati saja semuanya. Tapi yg mati itu retail milik china non pribumi. Kenapa ? Selama ini kebijakan pemerintah (yg notabe mereka juga pribumi) lebih berpihak kepada non pribumi dan menganak tirikan pribumi muslim. Seolah2 yg berpotensi, yg layak, yg pantas jadi pengusaha itu hanya china. Pribumi ? Jadi konsumen, karyawan, outsourching, cleaning service saja. Padahal negeri ini hasil perjuangan pribumi muslim dan mayoritas pribumi muslim. Bahkan bila perlu usaha pribumi muslim ini digencet sampai mati dan milik kafir itu difasilitasi sampai beranak pinak dan raksasa. Jadi….biarkan reatil mereka mati dan hidupkan, bina dan kembangkan retail milik pribumi muslim. Allahu Akbar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU