Menurut Pungky, manfaat elektronifikasi ini memang belum bisa dirasakan secara penuh saat ini. Sebab, masih ada kemacetan di jalan tol. Kendati begitu, ia meyakini ketika program ini dapat dijalankan 100 persen dan terimplementasikan dengan baik, akan mampu menekan antrian di gerbang tol secara signifikan. “Karena tidak perlu kembalian. Mencari receh ini kan butuh waktu sehingga tidak efisien. Dengan ini, maka menjadi efisien,” katanya.
Untuk meningkatkan penetrasi elektronifikasi jalan tol, BI akan menyediakan kartu dengan harga khusus. Program ini akan berjalan hingga 31 Oktober 2017. “Bagi pelanggan yang kesulitan memperoleh uang elektronik akan disediakan saat membayar di gardu tol. Tapi satu mobil hanya dapat satu kartu,” kata dia.
Sementara itu, Rektor Unika Atmajaya A. Prasentyatoko mengatakan, sudah saatnya perbankan melakukan tranformasi layanan. Apalagi, dalam sebuah survey yang dilakukan kampusnya di 4 kota besar‎ ditemukan dari 500 responden yang disurvey hanya 31 persen yang memiliki account bank.
Hal ini, kata Prasetyantoko, menunjukan financial inklusif tidak tercapai secara maksimal. Ketika ditelusuri, rupanya alasanya adalah masyarakat tidak memiliki uang untuk disimpan di bank.
“Ketika diminta untuk menyisihkan uang Rp100 ribu saja, mereka keberatan. Padahal 88 persen mereka memiliki phone cell, dan secara maturity, mereka punya kendaraan bermotor, punya cicilan. Tentu ini peluang bagi finance techonology untuk merambah yang belum tersentuh oleh bank,” kata dia.
‎Ia menambahkan, hal paling mengkhawatirkan adalah pertumbuhan fintech yang cukup pesat. Bahkan, berdasar data riset Statistika di tahun 2016 saja, nilai transaksinya sudah mencapai 18,64 miliar dollar AS. Melihat fakta ini, perbankan seharusnya mulai mengambil langkah strategis. Sebab,  fintech diyakini akan merebut pasar perbankan, terutama dari segi pendanaan.
“Fintech sudah tidak bisa lagi ditolak. Karena suka atau tidak, dia sudah sangat cepat berkembang,” pungkas Prasetyantoko. (Achmad/Hrn)
