DPRD Surabaya Perjuangkan Sekolah Gratis

“Saya asli Banyu Urip sini. Ini rumah warisan orang tua. Dulu tanahnya lumayan lebar, terus dipetak, dibagi dengan saudara-saudara,” kata Mbak As, sapaan Siti Aisyah.

Mbak As mengaku saat hujan terkadang hanya anak bungsunya yang tidur dalam rumah berikuran panjang sekitar 4 meter dan panjang sekitar 2,5 meter itu. Bangunan yang terbuat dari triplek, dan sebagian atap menggunakan bekas baliho terkadang bocor.

“Kalau hujan deras hanya anak saya yang kecil tidur di dalam. Lainnya di luar,” katanya.

Reni Astuti menegaskan bahwa kedatangannya ke rumah Tri terkait kesulitannya membayar biaya sekolah, serta rumah Mbak As sehubungan hunian tak layak merupakan tindak lanjut reses.

“Saya reses Senin (29/1) dan menerima informasi pengurus kampung. Karena itu saya datang dengan melihat langsung. Rumah bu As sudah sangat layak dibantu dengan program perbaikan rumah tidak layak huni dinas sosial,” katanya.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya berharap pihak kelurahan sudah mengetahui kondisi ini untuk selajutnya diusulkan ke dinas sosial, jika tidak patut disesalkan.

Reni sendiri sudah berkomunikasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan terkait masalah ini.

“Saya akan coba komunikasi dengan pihak sekolah. Termasuk dengan pemerintah kota, dalam hal ini Dinas Pendidikan yang mengurusi bantuan bagi siswa dari keluarga pra sejahtera namun memiliki semangat menempuh pendidikan,” katanya.

Menurut Reni, Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran pendidikan berupa BOPDA untuk sekolah swasta, harapannya sekolah bisa membantu siswa dari keluarga tidak mampu. (Ant/SU02)

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER