Masyarakat Bali Membaur Bantu Pengungsi Gunung Agung

DENPASAR – Sejumlah perempuan tampak sibuk memasak di sebuah balai banjar, sedangkan beberapa lainnya membersihkan dan memotong sayur mayur serta menyiapkan bumbu sebelum dimasak.

Balai banjar itu disulap menjadi tempat penampungan sementara para pengungsi sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PWMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung (3.143 meter di atas permukaan air laut) di Kabupaten Karangasem, Bali, dari Level III (Siaga) menjadi level IV atau Awas mulai Jumat (22/9) malam.

Pengungsi dan masyarakat setempat tampak berbaur dalam menyiapkan makanan bersama di tempat penampungan sementara seperti yang disaksikan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta ketika melihat dari dekat pengungsi di sejumlah balai banjar di wilayahnya.

Masyarakat selain membantu logistik, juga mengizinkan rumahnya sebagai tempat penampungan sementara. Di wilayah Kabupaten Klungkung, tetangga paling dekat Kabupaten Karangasem itu menampung 1.608 kepala keluarga (KK) atau 8.525 jiwa hingga Sabtu (23/9) petang.

Bersamaan dengan peningkatan status Gunung Agung, maka wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu diperluas menjadi sembilan kilometer, serta ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-barat daya.

Dengan demikian seluruh desa di lereng gunung yang berbahaya itu telah dikosongkan dan masyarakatnya dievakuasi ke tempat-tempat yang aman di wilayah Kabupaten Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli, Gianyar, Denpasar, Tabanan, hingga Jembrana.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah pengungsi hingga kini bertambah menjadi 15.142 jiwa yang tersebar pada 125 titik di tujuh kabupaten di Bali.

Jumlah itu diperkirakan masih akan bertambah, karena Pemkab Karangasem memperkirakan masyarakat yang bermukim pada radius enam kilometer sekitar 15.000 jiwa yang harus dievakuasi, sedangkan di radius 12 kilometer itu sebanyak 100.000 penduduk.

Pengungsi yang tersebar di 125 titik di tujuh kabupaten/kota itu menempati posko terpadu yang disiapkan BPBD bekerja sama dengan TNI Polri, GOR, balai desa, balai banjar, maupun rumah-rumah penduduk.

Banyaknya titik pengungsian, menurut Sutopo Purwo Nugroho menyebabkan distribusi logistik dan bantuan terkendala karena petugas harus menyalurkan ke lokasi pengungsian yang terpencar.

Meskipun demikian, semuanya diharapkan dapat teratasi dengan baik, berkat bantuan dan peran serta masyarakat Bali yang secara berbaur untuk ambil bagian dalam mengatasi masalah pengungsi Gunung Agung.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER