Catatan Perjalanan di Bima – NTB, Negeri Bencana

0

Jakarta, Seruji.com– Tidak bisa dipungkiri, kita hidup di negeri bencana. Gunung meletus, angin topan, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir bandang.

Kali ini kota Bima di Nusa Tenggara Barat diterjang banjir. Saat berbicara dengan para korban dan saksi mata, rasanya hanya pertolongan Allah-lah yang menyelamatkan mereka semua.

 

“Air naik cepat sekali Pak, rumah panggung kami pun terendam. Saya harus berenang keluar rumah menyelamatkan diri.”ujar seorang korban.

 

Ada yang mengangkut anak istri sekeluarga ke atas atap. Ada yang masih sempat membawa sapi-sapinya berlarian ke atas bukit.

 

Bencana yang luar biasa juga butuh penanganan yang luar biasa. Dan saya beruntung sempat bertatap muka dan bekerja sama dengan orang-orang yang luar biasa ini. Mereka ikhlas membantu dan menolong rakyat yang tertimpa musibah.

 

Di hari-hari awal, tim dari kabupaten Dompu turun membagikan ransum, nasi hangat dan pakaian. Seorang saksi mata bercerita,” Hari kedua banjir saya turun menengok saudara di Penaraga (kelurahan di Bima). Dia sedang kedinginan di rumahnya, sambil tangannya gemetar menyuap nasi ke anak-anaknya. Saudara saya itu orang mampu Dok. Tapi bencana tidak mengenal kaya atau pun miskin. Uang ada, mau beli makan di mana? Semua tutup. Semua orang menyelamatkan diri masing-masing. Orang Dompu yang datang dari jauh membawa masakan siap santap untuk dibagikan.”

 

TNI Sahabat Rakyat

 

Tanggap darurat diumumkan. Semua pihak pastinya ingin urun dan ikut serta mengerahkan segenap kekuatan membantu masyarakat kota Bima. Tidak ada superman di sini, semua pasti ikut berkontribusi. Tapi kalau ada pihak yang harus diacungi jempol dan standing ovation, TNI-lah yang layak. Garis komando yang jelas, membuat TNI dapat bergerak cepat, sementara pihak lain tertatih-tatih berkoordinasi.
“Saya sedang menyetir ke luar kota. Membawa anak istri berlibur ke Jogja. Tiba-tiba mendapat telpon, perintah untuk segera berangkat ke Bima” ujar seorang sejawat dokter tentara. “Saya antarkan anak-anak dan istri ke rumah saudara di Jogja. Mobil saya tinggal. Malam itu juga langsung berangkat menuju Bima.”

 

Seluruh fasilitas kesehatan di Bima lumpuh. Di hari-hari awal, TNI dengan konsep rumah sakit lapangannya berjibaku melayani para korban bencana. Tenda-tenda didirikan dan dilabeli, mulai dari pendaftaran, poliklinik rawat jalan, unit gawat darurat, kamar operasi, apotek. Rawat Inap menggunakan gedung Paruga Nae Convention Centre yang dipinjamkan pemkot Bima. Personel kesehatan 3 matra TNI (AD/AL/AU) didatangkan dari Surabaya, Malang dan Denpasar.

 

Tak hanya melayani masyarakat, anggota YonKes TNI juga ikut turun melakukan fogging, bahkan kurvey atau kerja bakti membersihkan puskesmas dan pusat layanan kesehatan yang ikut diterjang banjir, agar bisa segera beroperasi dan melayani masyarakat.

 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut menerjunkan Satgas Siaga Bencana. Tim awal dimotori oleh Dr. Jaya Ariheriyanto, Sp.A dari Jakarta dan Dr. Arie Purwana, Sp.A dari Bali. Dalam pengamatan tim terdapat dua kasus suspek Campak. Hal ini menjadi perhatian khusus, karena Campak sangat mudah menular, sehingga dalam kondisi bencana di mana anak-anak tinggal di pengungsian, maka bisa segera terjadi outbreak. Tim surveillance dari FKM UGM yang dipimpin Dr. Citra bekerja secara sistematis melakukan active case finding, dan benar saja, dalam hitungan hari, jumlah kasus campak meningkat menjadi 12 kasus.
Satgas IDAI berikutnya (Dr. Epi Paramarta, Sp.A dari Denpasar dan saya) menindaklanjuti laporan ini dengan melakukan home visit. Sebelas dari duabelas pasien Campak tinggal di RT yang sama, yang setelah ditelusuri merupakan kantong-kantong antivaksin. Sebagian warga di sana menolak anak-anaknya divaksinasi setelah mendapat propaganda yang sesat. Issue yang diangkat adalah masalah halal-haram dan vaksin palsu. Seorang tenaga kesehatan bahkan ikut termakan issue tersebut, sehingga anak-anaknya juga tertular sakit campak. Campak bukanlah penyakit yang sederhana, komplikasinya bisa jadi ensefalitis (radang otak), juga pneumonia (radang paru-paru). Satu pasien campak berusia 2 ½ tahun bahkan harus kami evakuasi ke rumah sakit karena sesak dan dehidrasi.
Koordinasi yang cepat antara Ketua PP IDAI (DR. Dr. Aman Pulungan, Sp.A (K)) dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTB memotong jalur birokrasi yang berbelit-belit. Ibu Kepala Dinas Kesehatan sendiri, yang kebetulan seorang dokter anak, terbang langsung dari Mataram ke Bima beserta stafnya, membawa tak kurang dari 1200 vial vaksin Campak. Rapat koordinasi di Rumah Sakit Lapangan TNI memutuskan bahwa harus segera dilakukan revaksinasi secara luas, dimulai dari kantong-kantong anti vaksin yang paling berisiko terkena wabah.
Masalah berikutnya timbul, saat info dari para juru imunisasi menyatakan kalau selama ini mereka selalu ditolak kalau akan melakukan imunisasi terutama di tiga kelurahan di Bima. Apa yang bisa membuat ortu anti vaksin kali ini berubah pikiran? Tim Satgas segera berkoordinasi dengan Sekjen PP IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K). Beliau dengan sigap mengirimkan materi dan bahan berupa bukti ilmiah keamanan dan efektivitas vaksin, serta dalil Al-Qurán dan Hadis sebagai amunisi untuk menghadapi propaganda anti vaksin. Target awal sebanyak kurang lebih 1500 bayi dan balita harus segera dilindungi. Tak kurang dari 30 tim diterjunkan yang terdiri dari kader posyandu, juru imunisasi, perawat, dokter umum, dokter spesialis anak, juga prajurit TNI.

 

Doctors without borders

 

Personil yang diturunkan untuk revaksinasi serentak menyebabkan Rumah Sakit Lapangan TNI kekurangan tenaga medis. Padahal layanan kesehatan tetap harus berjalan. Di saat genting itu, kami teringat rombongan dokter dari Persatuan Umat Budha Makasar yang dipimpin oleh Dr. Ing Siong a.k.a Dr. Jason, seorang Clinical Pharmacologist yang juga dosen di FK Unhas. Dokter Jason dan rombongan memutuskan untuk mengalihkan rencana baksos mereka ke pelayanan di Rumah Sakit Lapangan TNI. Mereka bekerja tanpa pamrih, bahkan menghibahkan obat-obatan sumbangan umat Budha Makasar untuk didistribusikan melalui Rumkit Lapangan TNI. Saya membaca motto yang tertera di baju mereka: Sabbe Satta Bhevantu Sukhitatta – Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia.

 

Propaganda Anti Vaksin

 

Tugas juru imunisasi kali ini lumayan berat. Beberapa orangtua yang awalnya menolak keras, mulai terbuka setelah diajak berdiskusi. Dijelaskan bahwa metode vaksinasi pertama kali dikembangkan masyarakat Turki Utsmani, jauh sebelum Edward Jenner memperkenalkan ke dunia kedokteran Barat. Ulama Internasional seperti Syekh DR. Yusuf Al-Qardhawy menyatakan bahwa vaksin boleh digunakan. Mufti Saudi Arabia – Syekh Abdul Aziz bin Bazz yang hafal Qurán dan hadis serta sangat paham tafsir sekali pun mengatakan bahwa tak mengapa berobat dengan cara imunisasi, jika dikhawatirkan akan tertimpa penyakit karena adanya wabah atau sebab lainnya. Paham antivaksin ini banyak disebarkan oleh orang-orang yang tidak paham ilmu kedokteran serta tidak berkompeten menentukan halal haramnya sesuatu. Bukankah jelas disebutkan apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah tanda-tanda kehancuran.

 

Alhamdulillah, di hari itu sebagian orangtua yang awalnya menolak bersedia untuk memvaksinasi buah hatinya. Ke depannya, rasanya perlu dialog antara ustadz dan Kyai setempat dengan MUI dan Kementerian Kesehatan untuk menyamakan persepsi mengenai vaksinasi, agar masyarakat awam khususnya anak-anak yang merupakan asset dan masa depan bangsa, tidak menjadi korban. (dr Yogi Prawira)

Keterangan foto: Rapat tim kesehatan di dalam tenda posko (yogi prawira)

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Terbaru

Sri Mulyani

Menkeu: Jangan-jangan Anggaran Tak Dinikmati Masyarakat

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Angka kemiskinan tercatat masih di angka 10,9 persen. Padahal, pemerintah telah menggelontorkan dana cukup besar untuk menanggulangi kemiskinan. Menteri Keuangan Sri...

3 Putra Mahkota Menunggu Nasib, Dibalik Isu Dahlan Jual Sahamnya di Jawa Pos

SERUJI.CO.ID - Maraknya kabar Dahlan Iskan menjual sahamnya di Jawa Pos kepada taipan property, Ciputra, tak lepas dari “perang strategi” menentukan siapa “putra mahkota” berikutnya yang akan...

Wartawan Dalam Lingkaran Elite Kekuasaan

SERUJI.CO.ID - Peristiwa kecelakaan tunggal yang dialami oleh Ketua DPR Setya Novanto saat menumpang kendaraan Hilman Mattauch, seorang wartawan sebuah stasiun televisi, bisa menjadi salah...

Politisi Golkar Bantah Pelipis Novanto Benjol Sebesar Bakpao

TANJUNGPINANG, SERUJI.CO.ID - Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin membantah bahwa Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto mengalami luka memar dan benjol sebesar bakpao...
Kursi DPR

“Tupai Berkuasa” Jatuh Juga

SERUJI.CO.ID - Para pelajar sekolah rakyat ataupun sekolah dasar pada puluhan lalu diajari sebuah peribahasa atau perumpamaan yang kalimat kurang lebih menyatakan "sehebat-hebatnya tupai...
Pembebasan sandera dan evakuasi warga dari kelompok separatis Papua

Aparat Kawal Ketat Proses Evakuasi Warga ke Timika

JAYAPURA, SERUJI.CO.ID - Sebanyak 344 warga yang dievakuasi dari perkampungan di Distrik Tembagapura, dikawal hingga tiba dengan selamat di Timika, Ibu Kota Kabupaten Mimika, Provinsi...