SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Pimpinan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya menegaskan bahwa Dr Setyadi Widyawawan, ST, MT, seorang narasumber seminar nasional kiat sukses menembus SNMPTN & SBMPTN yang beredar di sejumlah media sosial bukanlah dosen ITS.
Wakil Rektor III ITS, Prof Ir Arif Djunaidy di Surabaya, Selasa (16/1) mengatakan setelah ditelusuri di database kepegawaian, pihaknya tidak menemukan adanya data yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan tersebut adalah dosen di lingkungan kampus ITS.
“Sudah kami cari di database, ternyata Dr Setyadi Widyawawan, ST, MT tidak tercatat sebagai dosen di ITS, baik itu sebagai dosen tetap PNS, dosen tetap non-PNS, maupun sebagai dosen luar biasa atau dosen tamu,” kata wakil rektor yang membidangi SDM, Organisasi dan Teknologi Sistem Informasi tersebut.
Arif melanjutkan, penelusuran tidak hanya dilakukan di database kepegawaian ITS, namun juga dilakukan penelusuran di database alumni ITS.
“Di database alumnipun ternyata juga tidak ditemukan datanya pernah kuliah di ITS. Karena awalnya, dikhawatirkan bila yang mengaku-aku sebagai dosen ITS tersebut pernah tercatat sebagai mahasiswa ITS,” ujarnya.
Selain mengaku sebagai dosen ITS, dalam flyer yang diedarkan tesebut, juga menyebutkan yang bersangkutan sebagai panitia SNMPTN 2017 untuk pengolahan data primer dan juga sebagai manajer akademik lembaga bimbingan belajar Primagama di Yogyakarta.
“Di kepanitiaan pusat SNMPTN & SBMPTN pun tidak ada nama yang bersangkutan tercatat sebagai anggota panitia,” kata Arif yang juga panitia SNMPTN & SBMPTN 2018.
Apalagi, menurut Arif, di susunan kepanitiaan SNMPTN & SBMPTN tidak pernah ada bagian yang melakukan pengolahan data primer seperti yang disebutkan oleh oknum yang bersangkutan tersebut.
Aksi yang dilakukan oknum ini diperkirakan sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir ini. Dari data yang berhasil dihimpun ITS menemukan ada beberapa edaran dan berita kegiatan di antaranya berita kegiatan seminar di Banjarmasin pada tanggal 11 Februari 2015, edaran acara tanggal 22 Oktober 2016 di Pacitan, edaran tanggal 19 November 2017 di Bengkulu, dan yang terbaru berita kegiatan seminar tanggal 8 Januari 2017 di Bandar Lampung.
Semua kegiatannya ditujukan untuk siswa SMA dengan iming-iming diberi kiat khusus agar bisa lolos seleksi ujian SNMPTN dan SBMPTN.
“Untuk itu, kami mengingatkan masyarakat agar tidak tertipu dengan aksi yang dilakukan oleh oknum yang bersangkutan yang mengatasnamakan sebagai dosen ITS ini,” ujar Arif.
Menyikapi hal tersebut, Arif mengatakan bahwa ITS akan mempertimbangkan mengambil langkah-langkah hukum untuk menindak tegas oknum yang sudah mencatut nama ITS untuk kepentingan pribadinya tersebut. Karena dianggap bisa merugikan, baik pihak ITS maupun masyarakat sebagai konsumennya.
“Kami masih akan melakukan koordinasi untuk langkah selanjutnya,” ujar Arif. (Ant/SU05)
