SERUJI.CO.ID – Saya pernah memberikan semacam materi tentang kiat hidup sehat di hari tua yang pesertanya pensiunan pegawai suatu Bank dan keluarganya. Pesertanya cukup banyak, dan saya lihat dari penampilannya, secara fisik berbeda dan bervariasi sekali. Mulai dari yang kelihatan sangat bugar, rambut masih hitam, duduk-tegak, berjalan masih tegar, sampai kepada yang kelihatan sangat tua, rambut putih semua, berjalan bungkuk dan menggunakan tongkat, lumpuh sebagian badannya. Bahkan ada yang datang didorong dengan kursi roda karena tidak dapat berjalan sama sekali, dan ada pula yang sedang mengalami cuci darah (Hemodialisa).
Melihat penampilan mereka yang sangat berbeda dan bervariasi ini mendorong saya untuk memberikan pertanyaan kepada yang hadir.
Pertanyaan itu adalah, apa yang mereka lakukan menghadapi hari pensiun selama ini. Sebagian besar menjawab, ada yang berinvestasi dalam bidang usaha, menabung, deposito, menyimpan dolar, membeli saham dan sebagainya yang semuanya terkait dengan uang, materi.
Dan, ketika Saya bertanya apa yang mereka lakukan untuk menghadapi hari tuanya terkait kesehatan? Jawabanya, sebagian besar mengikuti atau membeli polis asuransi kesehatan, di luar asuransi yang sudah diberikan perusahaan.
Dan, waktu Saya mengajukan pertanyaan lagi, apa yang mereka rencanakan sehubungan dengan kesehatanya di hari pensiun ini? Sebagian besar masih menjawab membeli polis asuransi, dan sebagian lagi diam saja.
Asuransi kesehatan bagi sebagian besar kita dianggap sebagai investasi untuk sehat. Dalam satu sisi mungkin benar juga, karena akan membantu tagihan pembiayaan konsultasi dokter, obat-obatan, dan biaya rawat inap rumah sakit. Tetapi asuransi masih mengacu kepada konsep sakit, anda sakit dulu baru asuransi membayar.
Asuransi kesehatan tidak menyinggung bagaimana agar anda tetap sehat, tapi bagaimana mereka membantu anda setelah anda jatuh sakit. Asuransi juga tidak membuat anda jadi sehat, tapi membantu anda mungkin sembuh, memperbaiki kualitas hidup anda.

