JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Muhammadiyah tak akan ambil bagian dalam aksi 299 di Tugu Tani dan Gedung DPR, Jakarta, Jumat (29/9). Aksi yang digagas Forum Ummat Islam (FUI) ini sebagai simbol perlawanan terhadap bangkitnya komunisme di Indonesia.
“Kita tidak akan terlibat dalam aksi 299, termasuk Muhammadiyah. Tapi kita tidak melarang siapa pun untuk telibat dalam aksi, termasuk kader Muhammadiyah, karena itu amanat konsitusi selama dilakukan dengan cara-cara yang berakhlak,” ujar Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjutak, di kantor DPP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (28/9).
‎Dahnil mengatakan, kewaspadaan terhadap kebangkitan PKI adalah sebuah keharusan. Tetapi, sangat tidak penting bila masyarakat terlalu takut terhadap bangkitnya partai terlarang tersebut. “Jadi waspada sih harus, karena laten,” katanya.
‎Ideologi yang dianut PKI, menurut Dahnil, kapan saja sebenarnya bisa tumbuh subur selama tidak ada keadilan dan dendam.
“Tapi tidak perlu dijadikan sikap ketakutan nasional. Jadi jangan membikin horor nasional. Itu menurut saya nggak produktif. Apalagi debat semacam ini sangat tidak produktif. Kita harus move on. Apalagi debatnya cuma nonton film G30S/PKI, silakan nonton, siapa yang melarang. Dan yang nggak setuju dengan film, ya nggak perlu juga melarang atau meledek yang nonton film itu,” katanya.
‎Dahnil juga tak keberatan apabila ingin membuat film baru terkait peristiwa G30S/PKI. Namun, substansi film tersebut tidak boleh dirubah. Artinya, fakta-fakta pembunuhan pahlawan revolusi, dan para ulama tidak boleh dihapus. “Itu yang nggak boleh diingkari dalam sejarah. Kalau itu diubah, saya pikir semua akan marah,” kata dia.
Muhammadiyah sendiri, kata Dahnil, sudah membentengi diri dari ideologi komunis. Organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan ini berlandaskan Ketuhanan yang Maha Esa.
“Sehingga kalau mau masuk saja nggak bisa. Artinya secara genetika saja nggak akan ketemu. Ibaratnya ya bentengnya itu benteng organisasi yang percaya dengan Tuhan, dan nggak akan ketemu,” kata dia. (Achmad/Hrn)
