Pemilihan kepala daerah, anggota legislatif dan presiden akan menjadi penentu kebijakan dalam pembangunan di negara ini. Umat Islam sebagai mayoritas penduduk di Indonesia sedang dalam kondisi dilematis. Lobi-lobi antar partai politik baik yang berbasis nasionalis maupun religius semakin menambah kegalauan umat muslim di negeri ini. Bagaimana tidak menjadi dilema ketika partai-partai politik berbasis agama Islam berpisah dalam koalisi yang menyebabkan umat Islam terpecah.

Koalisi nasionalis sudah terbentuk antara PDI-P, Golkar, Hanura dan Nasdem. Sementara partai-partai yang berbasiskan umat Islam belum juga membentuk koalisi seperti PAN, PKB, PBB dan PKS. Seharusnya partai-partai tersebut mampu membuat hubungan yang lebih kuat antar anggota partainya. Hal ini didasari akan kesamaan visi dan misi diantara partai tersebut dan terutama sebagai wadah perjuangan agar umat muslim sebagai kaum mayoritas di negara ini memiliki suara di pemerintahan.

Persimpangan jalan kekuasaan ini secepatnya harus segera dibongkar dan disatukan untuk menyatukan umat Islam. Dengan mengesampingkan egoisme antar partai yang biasanya memiliki kepentingan abadi yang berujung pada tercapainya kekuasaan di negara ini. Partai berbasis agama Islam adalah bukan hanya sekedar partai yang hanya sibuk saat akan ada pesta demokrasi, seharusnya menjadi rumah aspirasi umat untuk menjadi penyampai keinginan umat kepada pemerintah.

Ketika terjadi tindakan-tindakan kurang terpuji yang terjadi pada beberapa ulama Islam, partai-partai begitu “heboh” menyerukan untuk melakukan penyelesaian. Akan tetapi saat mendekati masa pesta demokrasi seakan hal itu seperti “lip service” sebagai pemanis kepada umat. Umat Islam seakan seperti sebuah “barang musiman” yang seakan-akan dipanen selama 5 tahun sekali dan dibiarkan ketika sudah selesai masa panen. Hanya dengan obral janji akan membela umat Islam menjelang pesta demokrasi, yang akhirnya terkadang janji-janji itu tidak ditunaikan atau bahkan dilupakan.

Calon-calon kepala daerah, legislatif bahkan presiden pada masa-masa sekarang ini mulai menyibukkan diri untuk berkunjung ke kantong-kantong umat Islam. Mereka mengunjungi pesantren-pesantren, majelis taklim dan komunitas-komunitas umat Islam. Apakah hal ini akan terus terjadi sampai umat Islam benar-benar menjadi komoditas pemilu?

Partai-partai berbasis agama Islam seharusnya menyadari dari awal akan kondisi semacam ini. Umat dan partai seharusnya melakukan kerjasama yang saling menguntungkan untuk kemajuan umat baik secara ekonomi, budaya, pendidikan dan sosial. Umat memperkuat partai dan partai menjadi penyampai akan amanat rakyat melalui wakil-wakilnya di legislatif.

Ketika kondisi semacam ini terus berlanjut maka benar-benar akan terjadi jika umat Islam seperti buih di lautan. Jumlahnya banyak akan tetapi terombang ambing oleh keadaan dan hanya mengikuti pihak lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama