
Jakarta, tempat perputaran uang paling besar di negeri ini, adalah pusatnya para kapitalis yang terus mempertahankan hegemoninya. Salah satu caranya dengan mempromosikan gaya hidupnya yang sangat konsumtif agar pasarnya tetap terjaga. Maka tidak heran bila para remaja yang tidak terlindungi sistem pendidikan yang baik bisa mudah terpengaruh dengan budaya foya-foya bak selebriti.
Pendidikan yang seharusnya membangun sumber daya manusia ternyata tak bisa mencegah hal tersebut, padahal budaya pesta pora berkontribusi negatif pada daya saing bangsa. Pendidikan harus dapat membangun jati diri para generasi muda agar tidak kehilangan jiwa pejuang untuk rakyat dan bangsa.
Sayangnya, para pelaku pendidikan saat ini termangu-mangu dalam bergerak karena sistem pendidikan juga teracuni dengan sistem pasar bebas. Lihatlah begitu semaraknya lembaga-lembaga kejuruan yang digembor-gemborkan secara masif, yang notabene hanya mengeluarkan kelas-kelas pekerja dalam sistem industrialis, yang hanya sekedar menjadi pembantu di negeri sendiri. Lihat pula dengan berbagai standar yang dinasionalisasi seperti UN yang dengan latah mengambil sikap sebagai langkah dehumanisasi , menjadikan manusia sebagai mesin-mesin produksi, sekaligus pangsa pasar para penguasa modal korporasi.
Dengan dalih membangun sikap kompetitif, kepala daerah-kepala daerah pun latah menetapkan aturan seleksi masuk sekolah dengan nilai UN atau US. Sistem kompetisi memang bagus untuk mencari bakat- bakat, tetapi terbukti manjur melebarkan kesenjangan mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak karena masih ada dikotomi sekolah favorit dan non favorit.
Dalam sistem pendidikan kita memang tercantum visi ideal, tetapi yang terjadi di lapangan hanyalah pragmatis belaka. Fokus pendidikan akhirnya hanya seberapa tinggi mata pelajaran tertentu yang dibutuhkan pasar kerja dan melupakan pembentukan pribadi berkepekaan sosial.
