Dulu, tahun 2015, kita dihebohkan dengan undangan perayaan paska UN bernama bikini party ke beberapa SMU di Jakarta. Untung buru-buru ketahuan, sehingga tidak jadi dilaksanakan. Pertanyaannya, bila tidak ketahuan apakah benar-benar akan terjadi?

Kasus tersebut disikapi oleh berbagai pihak sebagai degradasi moral, dan sering diembel-embeli dengan berbagai alasan seperti terlalu derasnya budaya dan informasi dari negara barat. Sebegitu mudahkah anak muda Indonesia menelan pengaruh-pengaruh itu tanpa ada peranan sistem pendidikan kita?

Apa yang terjadi tidak bisa lepas dari perubahan kultur masyarakat berbasis pasar bebas. Sistem pasar bebas menyebabkan munculnya kelas-kelas masyarakat, karena prinsip pasar bebas adalah membebaskan para kapitalis melalui korporasinya melakukan segala cara untuk memperoleh keuntungan. Seperti yang dikatakan oleh Joel Bakan dalam tulisannya bahwa korporasi itu sebagai lembaga psikopat yang selalu haus akan keuntungan dan kekuasaan, dan tidak peduli bagaimana caranya termasuk dengan melakukan eksploitasi manusia. Muncullah kelas pekerja, kelas eksekutif, kelas pejabat, kelas pengusaha, kelas pemodal yang memiliki gaya hidup yang berbeda-beda.

Loading...

Kelas tertinggi dalam sistem kapitalis adalah para pemilik modal yang bergaya hidup super bebas, apapun yang diinginkan pasti tercapai. Kehidupan mereka menjadi magnet bagi manusia untuk meniru sekaligus terdorong oleh keinginan untuk berada setara atau sekelas dengan mereka.

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama