Belajar Cinta, antara Motor dan Istri

0
536
rect4233

Tak lama berselang bulan, sang teman datang berkunjung membawa motor yang dulu dijual. Antik? Iya. Cantik? Sangat. Bergulir rasa penyesalan dalam hati, andaikan dirinya yang menambahi lampu-lampu indah, spion kilau ala moge, sadel berlapis beludru halus, dan kilat kilau mesin berlapis perak. Andai, tentu akan semakin sayang dan cinta. Menyesal telah tak memperhatikan bertahun-tahun lamanya.

Mencintai bukan karena keadaan. Mencintai itu tindakan. Tindakan untuk menjadikan yang dicintai semakin dicintai.

Sepasang pengantin, seperti menemukan dunia baru yang indah di mata. Istri cantik menyenangkan itu pasti. Tapi, manusia itu juga menua. Cantik juga tak selamanya. Apakah perlu cari ganti gara-gara sudah tak cantik lagi? Itu bukan cinta, tapi nafsu. Bayangkan bila punya motor baru setahun, tertarik keluaran terbaru dan kemudian ganti? Belum habis motor lama dinikmati, sudah ganti motor baru. Namun, tak akan pernah merasa puas, karena selalu saja merasa kurang. Jelas, motor baru selalu lebih baik, sedangkan motor yang lebih baru lagi berikutnya pasti ada.

Muncul sayang itu karena memberi. Menafkahi, hidup bersama, merawat hati, itu tindakan mencintai. Diberi rumah, istri akan setia menunggu kala pulang membawa lelah. Diberi perhiasan, ia rajin bersolek agar indah di mata. Apalagi ketika mendapat anugerah anak-anak, istri bagai bayangan ibu yang penuh kasih.

Apa yang diberikan, berimbal keindahan.

Jangan lepas hanya karena kurang puas. Bisa jadi, itu hanya karena kurang memberi. Karena, mencintai itu memberi.

(Sore ini, 27 November 2017, istri sahabatku yang sangat dicintainya, meninggal dunia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama