Sy. Ibnu Abbas RA memaparkan bahwa Nu’man bin Qushay, Bahr bin Umar, Syasy bin ‘Adi suatu hari mendatangi Rasulullah SAW dan berbincang-bincang. Lalu beliau SAW mengajak mereka mengesakan Allah dan memperingatkan mereka dari siksaan Allah.
Mereka pun berkata, “Wahai Muhammad, engkau tidak perlu menakut-nakuti kami. Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya.”
Lalu turunlah surat  Al-Ma’idah, 18, yang artinya: “Orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kasih-Nya.” Katakanlah, “Mengapa Allah menyiksa kalian karena dosa-dosa kalian?” Tidak, kalian adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan, milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, dan hanya kepada-Nya semua akan kembali. (HR. Ibnu Ishaq).
Pengakuan kaum Yahudi dan Nasrani ini jelas-jelas bertentangan dengan keyakinan umat Islam, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Ikhlas, lam yalid wa lam yulad (Allah itu tidak beranak dan tidak pula diperanakkan).
Sy. Ibnu Abbas RA berkata bahwa suatu saat Ibnu Shuriyah seorang tokoh Yahudi, berkata kepada Rasulullah SAW, “Tidak ada petunjuk (hidayah) kecuali kami mengikutinya. Jadi, ikutilah kami wahai Muhammad, agar kamu mendapat petunjuk.” Demikian juga kurang lebih perkataan yang hampir sama sering diucapkan oleh tokoh-tokoh Nasrani kepada Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, Allah menurunkan surat Al-Baqarah, 135, sebagai jawaban, yang artinya, “Dan mereka berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak !) Akan tetapi, (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan yang mempersekutukan Tuhan.” (HR. Ibnu Abi Hatim).
Rasa kedengkian kaum Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam tidak akan pernah padam, termasuk ditampakkan juga dalam urusan ritual. Mereka juga terus menghasud umat Islam untuk meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti langkah-langkah mereka.
Di zaman Rasulullah SAW hidup, Sy. Abbas RA menjelaskan bahwa kaum Yahudi Madinah dan Nasrani Najran mengharapkan agar Rasulullah SAW jika shalat menghadap ke kiblat mereka. Terwujudnya harapan ini semakin kecil saat Allah mengubah Qiblat kaum Muslim ke arah Ka’bah. Akhirnya, mereka putus asa untuk membuat Rasululah SAW memeluk agama mereka.
Maka, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah , 120 yang artinya: “Dan orang-orang Yahudi serta Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah (ada) ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah. (HR. Ats-Tsa’labi).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama