Begitulah jargon yang sering didengungkan oleh kalangan masyarakat beradab yang bertempat di muka bumi. Masyarakat beradab adalah mereka yang benar-benar mendambakan keadilan dan menolak arogansi terus berlaku di tengah masyarakat dalam segala aspek kehidupan. Karena ketimpangan hukum dan ketidakadilan itu hanyalah akan membawa situasi yang membahayakan bagi kedamaian.

Cemburu sosial, begitulah yang sering dialami oleh masyarakat, hingga terjadi pula kekacauan demi kekacauan, karena dipicu oleh kondisi ketidakadilan akibat tidak pandainya menegakkan supremasi hukum.

Jika saja setiap orang yang berkewajiban menegakkan supremasi hukum di tengah masyarakat, mau berkiblat kepada ajaran Islam yang telah dicontohkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah SAW, tentu keadilan di muka bumi ini akan dapat ditegakkan, dan tentu kehidupan masyarakat akan menjadi tentram dan damai.

Karena, penerapan sanksi hukum yang dijatuhkan kepada para pelanggarnya, adalah penjagaan hak hidup damai bagi masyarakat yang jumlahnya jauh lebih besar.

St. ‘Aisyah RA menuturkan bahwa kaum Quraisy berkepentingan atas seorang wanita dari suku Makhzumiyah yang telah melakukan pencurian. Mereka berkata, “Siapakah yang berani merundingkan (memintakan keringanan hukuman) dengan Rasulullah tentang wanita itu ?”

“Tidak ada yang berani selain Usamah bin Zaid, kesayangan Rasulullah SAW,” jawab yang lain.

Kemudian Shahabat Usamah bin Zaid membicarakan perihal wanita itu dengan Nabi Muhammad SAW.

1
2
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama