Istilah Masyarakat Madani, sering digunakan sebagai hujjah para pejuang pluralisme dari kelompok liberal. Mereka mengatakan bahwa hanya ada satu fakta kemanusiaan, yakni keberagaman, hetrogenitas dan kemajemukan. Mereka mengatakan bahwa setiap agama haruslah terbuka terhadap kebenaran agama lain, atau setidaknya mengakui adanya kebenaran di dalam agama lain.

Dalam propagandanya , mereka selalu mengatakan bahwa tidak ada kebenaran satu agamapun yang mutlak. Artinya bahwa nilai-nilai kebenaran selalu ada pada tiap-tiap agama. Mereka juga mengatakan, sebaik-baik agama di sisi Allah adalah al-hanifiyyah as-samhah (semangat kebenaran yang lapang dan terbuka).

Mereka berpendapat bahwa al-hanifiyyah as-samhah adalah semangat mencari kebenaran secara terbuka, yang membawa sikap toleran, terbuka, tidak sempit, tidak fanatik dan tidak membelenggu jiwa. Segala sesuatu adalah relativ (nisbi), dan setiap absolutisme (kemutlakan) bukanlah relativisme.

Loading...

Dalam propaganda yang disebarluaskan, kelompok liberal mengusung “Piagam Madinah” sebagai kedok untuk merealisasikan tujuannya, yaitu menciptakan masyarakat pluralis, tentunya dalam persepsi mereka.

Klausul-klausul dalam Piagam Madinah, tentang perdamaian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan pihak Yahudi dan Nasrani kala itu, mereka gunakan sebagai legitimasi pemahamannya. Kata-kata perdamaian yang selalu disebut-sebut, dikonotasikan sebagai keterbukaan Nabi SAW menerima dan membenarkan semua agama yang beliau SAW dapati di kota Madinah saat itu.

Mereka dengan sengaja melakukan kebohongan publik dan upaya pembodohan terhadap ummat, dengan menyembunyikan hakikat ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai peletak dasar Piagam Madinah.

Perlu diingat, bahwa Nabi Muhammad SAW telah merancang konsep yang baik dan indah dalam penerapan Piagam Madinah tersebut. Beliau membangun sistem kehidupan di tengah prularitas masyarakat Madinah, dengan memaparkan kebenaran Alquran kepada penduduk Madinah.

Beliau SAW juga terus menerus memperjuangkan penerapan syariat Islam di tengah kemajemukan masyarakat. Nabi Muhammad SAW melayani perdebatan terbuka dengan berbagai kalangan, guna menerangkan hakikat kebenaran ajaran agama Islam.

Beliau SAW senantiasa dengan gigih dan penuh kesabaran mengajak masyarakat kepada jalan yang benar. Islam yang diterangkan kepada masyarakat, adalah agama yang bersifat sebagai penyempurna dari ajaran para Nabi pendahulunya. Maka Nabi Muhammad SAW tak henti-hentinya mengajak penganut Yahudi dan Nasrani untuk memeluk agama Islam.

Realitanya, kota Madinah sebagai sentral kegiatan dakwah Nabi SAW pada akhirnya dan hingga kini, telah terbebaskan dari kekafiran dan kemusyrikan yang dilakukan baik oleh kalangan Yahudi, Nasrani, maupun kaum paganis, penyembah selain Allah SWT.

Maka pengusungan istilah al hanafiyyah as samhah dan Piagam Madinah oleh kelompok liberal dalam menguatkan hujjahnya, tiada lain adalah sebuah upaya pemakaian kalimatu haqqin uriida bihal bathil (kalimat yang benar dipergunakan untuk tujuan menciptakan kebathilan), alias pemutarbalikan fakta.

Tentunya fakta sejarah Nabi Muhammad SAW tatkala beliau membangun kota Madinah ini, melahirkan suatu keniscayaan dan konsekuensi, bahwa segala faktor yang berkaitan dengan hal itu, harus sesuai dengan misi Nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul yang diutus untuk membawa kebenaran agama Islam.

Dengan kata lain, jika istilah masyarakat madani sebagaimana diusung dari watsiqah (dokumen) Piagam Madinah, akan dipergunakan membangun sebuah komunitas, maka konsekuensi logisnya, harus pula memperjuangkan penerapan syariat Islam baik secara mikro maupun makro.

Lalu mengapa dalam praktek yang diperjuangkan oleh kelompok liberal hanyalah kebagusan-kebagusan civic culture (pro-pluralisme, moderasi, toleransi, memiliki sense of community yang nasional), lalu Islam-nya di mana dan apa fungsinya? Apakah tidak terjadi La yabqaa minal islaami illaa ismuh (Islam hanyalah tinggal namanya saja)?

Sebuah ironi jika watsiqah (dokumen) ini, digunakan sebagai argumen yang justru bertentangan dengan misi Islam dalam penerapan syariatnya. Apalagi jika ditabrakkan dengan pemutar balikan arti ayat-ayat Alquran dan hadits yang dikonotasikan sebagai ayat pembela terhadap kepentingan non muslim.

Bisa dikata, problem besar bagi para pejuang “pluralisme” itu, adalah kelakuan “al ithlaq fi mahallit taqyiid” (menggeneralisir suatu masalah yang seharusnya dibatasi) oleh syariat, bahkan yang semestinya bersifat dogmatis.

Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan satupun pemahaman bahwa semua agama itu benar, sebagaimana yang dipropagandakan kelompok liberal. Bahkan Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan jelas mengatakan bahwa pemeluk agama Nasrani adalah kafir, karena ucapan mereka bahwa Allah adalah Almasih (Isa) putra Maryam, sekalipun pemeluk Nasrani mengatakan bahwa dirinya itu beriman kepada Allah.

Fakta ini didokumentasikan Alquran Dalam surat Almaidah ayat 72, Allah berfirman (yang artinya): “Sungguh telah kafir orang-orang (Nasrani) yang mengatakan bahwa Allah itu adalah Almasih (Isa) putra Maryam.” Dalam surat Attaubah ayat 30, Allah berfirman (yang artinya): “Orang-orang Yahudi berkata, ” Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata, “Almasih (Isa) itu putra Allah”.

Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”

Fakta inilah diantara kemusyrikan pemeluk Yahudi dan Nasrani kepada Allah, sehingga Allah berfirman dalam surat Alikhlas ayat 3 (yang artinya): “Allah tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan”

Fakta ini pula yang menerangkan betapa tegarnya Nabi SAW tatkala menghadapi serangan pihak Yahudi dan Nasrani, baik berupa debat ilmiah secara terbuka, bahkan juga serangan fisik, demi mengemban amanat risalah yang diturunkan oleh Allah kepada beliau SAW.

Dengan demikian, maka arti ayat innad diina `indallahil islaam yang sebenarnya adalah “Sesungguhnya (satu-satunya) agama yang benar (secara mutlak) disisi Allah hanyalah agama Islam” (tentunya dengan kandungan syariatnya). Bukan seperti persepsi kelompok liberal, yang mengartikannya dengan “Sesungguhnya beragama yang benar di sisi Allah adalah sikap penyerahan diri”. Persepsi semacam ini bisa membiaskan arti, bahwa pemeluk agama Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, dan kaum paganis lainnya, selagi mereka berpasrah diri maka dianggap benar, sekalipun mereka mengingkari kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad SAW, serta melakukan kemusyrikan-kemusyrikan kepada Allah.

Karena Nabi Muhammad SAW telah mencetuskan Piagam Madinah, kelompok liberal mengklaim bahwa beliau SAW termasuk liberal dan pluralis. Lalu apakah mereka akan mengatakan Nabi Muhammad SAW sebagai diktator dan teroris karena memerangi orang kafir Quraisy, dan mengusir kaum Yahudi bani Quradzah, Nadzir, dan Qainuqa` dari Madinah, tatkala menghianati klausul-klausul Piagam Madinah itu sendiri?

Pada hakikatnya Beliau SAW dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat sekaligus urusan ubudiyah, tiada lain hanyalah melaksanakan perintah Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, sebagai bentuk kepatuhan mutlak yang tak perlu beliau tawar lagi.

Dalam Syariat Islam memang ada jaminan hak-hak non Islam, ada murunah (fleksibilitas) dalam hukum-hukum Islam dan sebagainya. Tapi jangan lupa, syariat Islam bukan seperti prinsip apapun di Barat. Syariat Islam punya karakteristik sendiri yang dibatasi oleh Alquran dan Sunnah.

Sehingga segala produk hukum untuk mengatur kehidupan masyarakat itu tidak boleh menerjang batasan Alquran dan Sunnah.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama