Di era yang semakin modern, ternyata masih banyak para orang tua yang menganggap bahwa kepintaran seorang anak diukur oleh lambat atau cepatnya anak-anak mereka dalam pelajaran berhitung.

Anggapan ‘jadul’ semacam itulah yang pada akhirnya secara tidak sadar menggerakkan para orang tua yang merasa memiliki anak yang lambat dalam pelajaran berhitung, untuk terus memforsir kinerja otak anak-anak mereka belajar berhitung dengan cara diikutkan kursus atau semacam bimbingan belajar yang fokus pada masalah berhitung.

Sangat sering saya menjumpai anak-anak setingkat TK maupun SD yang sering kelelahan dengan berbagai tuntutan orang tua mereka. Bahkan tidak jarang anak-anak yang mengalami tuntutan serupa dari orang tuanya mengalami stres, depresi, enggan belajar hingga menganggap sekolah maupun belajar adalah tempat pesakitan.

Setiap datang ke sekolah maupun tempat bimbingan belajar ada yang menangis meraung-raung, ada pula yang saat didatangi guru les privatnya namun sang anak mengusir, menangis, dan marah, seolah guru les privat mereka adalah sesosok hantu yang menakutkan.

Selain itu juga tidak sedikit pula saya menjumpai para wali murid yang mengeluh dengan tatapan pesimis menganggap anak mereka bodoh hanya karena lambat dalam pelajaran berhitung.

Padahal faktanya, tidak ada anak yang dilahirkan bodoh! Setiap anak diciptakan Tuhan unik dan berbeda. Setiap anak memiliki kepintarannya masing-masing. Bahkan jika seorang anak tersebut terbukti tidak mampu membaca dan menulis, pun demikian bukan berarti anak tersebut bodoh. Karena nyatanya seorang Thomas Alva Edison pun yang tidak bisa membaca dan menulis saat ia sekolah dasar, akan tetapi berhasil menciptakan bola lampu yang dapat kita nikmati sampai hari ini, bukan?

Tidak hanya seorang Thomas Alva Edison, bahkan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam pun kita ketahui tidak bisa membaca dan menulis bukan? Namun beliau memiliki kecerdasan yang luar biasa yang mana Dunia pun mengakuinya, bukan?

Menurut Pakar pendidikan dari Harvard university, Howard Gardner, dalam teori Multiple Intelligences atau kecerdasan multipel, kecerdasan seorang anak terbagi menjadi 8 kecerdasan, yaitu :
1. Kecerdasan linguistik
2. Kecerdasan matematika
3. Kecerdasan interpersonal
4. Kecerdasan intrapersonal
5. Kecerdasan musical
6. Kecerdasan spasial
7. Kecerdasan naturalis
8. Dan kecerdasan kinestetik

Maka dari itu, sangat tidak bijak bagi para orang tua yang menjustifikasi anak mereka bodoh hanya karena tidak bisa berhitung.

Setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya masing-masing, dan tugas orang tua adalah memaksimalkan setiap potensi yang dimiliki oleh anak. (HA)

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama