Konon, di Mina pada kisaran tahun 1990-an, saat berlangsung ibadah mabit dan lempar Jumrah di musim haji, banyak sekali para pendatang dari berbagai daerah di belahan dunia yang melaksanakan ibadah haji, sebagian mereka mengambil kesempatan membawa barang dagangannya dari negeri masing-masing, tujuannya untuk menyambung hidup di perantauan di saat melaksanakan ibadah hajinya.

Saat itu penulis menemukan seorang Baduwi yang sedang berjualan hewan reptil yang sebelumnya belum pernah terlihat di Indonesia. Binatang itu memiliki sermacam telapak tangan yang sangat kokoh saat memegang ranting pohon tempatnya bergelantungan. Bentuknya sedikit aneh, bisa dikatakan tubuhnya hampir berbentuk kotak segi empat, dengan bagian badannya terkesan melebar dan tidak terlalu tebal.

Reptil ini senang bergelantung, termasuk ke tubuh penjualnya, karena sudah jinak, seakan-akan berusaha merangkul dengan kuat, yang tak ingin lepas dari tempatnya.

Makanannya adalah jenis rerumputan. Pada punggungnya ada kulit yang lembut berwarna seperti warna cicak, namun ada bagian yang bersisisk di sekitar ekor pendeknya.

Karena penasaran, maka penulis bertanya kepada sang penjual, gerangan apa nama hewan reptil ini. Ternyata dengan tegas sang penjual mengatakan : Hadzaa Dhab (ini adalah Dhab).

Menurut wikipedia, Dhab (Uromastyx aegyptia adalah sejenis biawak yang terdapat di padang pasir dan sebagai salah satu anggota terbesar dari genus Uromastyx. Dhab dapat ditemui di Mesir, Libya dan seluruh daerah Timur Tengah tetapi sangat jarang ditemui saat kini karena penurunan habitatnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama