Dari segi apakah seseorang itu dinilai baik atau buruk oleh masyarakat?

Akhaq dan adab sopan santun dalam perilaku keseharian, ternyata sangat menentukan seseorang itu akan menjadi buah bibir yang positif atau negatif di tengah masyarakat.

Siapapun orangnya, baik itu dari kalangan orang berpendidikan maupun kalangan orang awam, jika dapat menampakkan akhlaq yang baik dalam pergaulannya, maka orang-orang yang hidup di sekitarnya akan dapat menerimanya dengan baik pula.

Jangankan orang shaleh, jika ada seseorang yang pekerjaannya itu pencuri di malam hari, namun saat ia bergaul dengan masyarakat di siang hari, ternyata dapat menjaga akhlaq sopan santunnya secara baik, maka masyarakat pun akan mudah menerima dan menganggapnya sebagai orang baik.

Karena mayoritas masyarakat itu akan melihat kebaikan seseorang dari segi perilaku lahiriah, tentunya sesuai yang mereka saksikan dengan mata kasat.

Sebaliknya, orang yang kerap menampakkan perilaku buruk dalam pergaulan, maka respon negatif pun akan selalu bermunculan dan terus menyertai kehidupannya, walaupun jika ia memiliki segudang ilmu bahkan ahli dalam beribadah. Padahal, kesaksian masyarakat muslim itu kelak akan diterima oleh Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Budi pekerti yang baik dapat mencairkan dosa seperti air mencairkan gumpalan salju. Sedangkan perangai buruk dapat merusakkan amal shaleh sebagaimana cuka merusakkan madu.” (HR. Al-Baihaqi).

Jadi, setiap orang yang pandai menjaga akhlaq dan adab sopan santunnya secara baik dan mulia, maka respon postitif terhadap dirinya pun akan datang silih berganti.

Sy. Abdullah bin ‘Amr RA menyatakan, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya orang-orang pilihan di antara kamu adalah yang paling indah budi pekerti (akhlaq)-nya.” (HR. Muslim)

Orang yang pandai menjaga adab sopan santun itu, tidak hanya mulia di mata masyarakat saja, namun ia akan menjadi mulia pula di akherat nanti, asalkan tetap menjaga keimanan dan tidak banyak bermaksiat kepada Allah di kala sendirian.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat kelak, dibandingkan budi pekerti yang baik. Orang yang berbudi pekerti luhur dapat mencapai martabat orang yang berpuasa dan mendirikan shalat.” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang muslim yang biasa-biasa saja dalam beribadah, namun memiliki budi pekerti dan akhlaq yang terpuji, akan dapat mencapai derajat setara dengan orang-orang yang banyak shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Jadi, memelihara budi pekerti yang baik, termasuk menjaga lisannya dari ucapan jorok, kotor dan kasar serta menjaga dari perilaku norak, belagu, angkuh, sombong dan kelakuan buruk lainnya yang sekira menjengkelkan hati orang-orang di sekitarnya, maka budi pekerti baiknya itu adalah perbuatan sangat mulia yang dapat meninggikan derajat dirinya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Dengan budi pekerti yang baik, manusia dapat mencapai martabat yang tinggi dan kedudukan mulia di akhirat, sekaliapun ibadahnya lemah. Dengan perangai buruk, orang akan menempati kedudukan paling bawah di dalam neraka jahanam.” (HR. Ath-Thabarani).

Perbuatan baik serta berakhlaq mulia yang selalu dilakukan secara kontinyu, juga dapat menghapus dosa-dosa kecil yang kerap terjadi karena kelalaian seseorang.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus (dosa)-nya, dan berakhlaqlah yang baik terhadap sesama manusia.” (HR. Ath-Thabarani).

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

1 KOMENTAR

  1. Maaf pak kiyai, saya kecarian bahasan untuk kata2 “noraknya”. Mungkin maksudnya norak itu sdh mewakili semua hal yg tdk baik ya…. padahal menurut saya, norak ini lebih kepada sesuatu keadaan yg berlebihan….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama