JAKARTA – Pemerintah Indonesia menyatakan prihatin atas serangan rudal yang dilancarkan militer Amerika Serikat ke Suriah, sebagai respons atas dugaan serangan senjata kimia ke sebuah kota di Suriah yang dikuasai kubu pemberontak pada Selasa lalu.
“Adanya serangan rudal Tomahawk AS ke Suriah sebagai respon serangan senjata kimia dua hari lalu, posisi Indonesia sangat mengutuk penggunaan senjata kimia yang memakan banyak korban. Pada saat yang sama, Indonesia prihatin serangan unilateral dari pihak manapun,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir di Jakarta, Jumat (7/4), dikutip dari Antara.
Bagi Indonesia, jelas Arrmanatha, serangan rudal AS ke Suriah itu merupakan tindakan militer sepihak karena dilakukan tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB, dan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip hukum internasional dalam penyelesaian konflik secara damai.
“Bagi Indonesia, stabilitas dan perdamaian di Suriah hanya bisa tercapai melalui dialog, proses politik yang inklusif, dan dengan mengedepankan diplomasi,” katanya.
Untuk itu, Pemerintah Indonesia menekankan kepada semua pihak untuk dapat menahan diri, menghentikan seluruh tindak kekerasan serta melindungi dan menghormati hak asasi manusia.
“Indonesia mendorong agar akses kemanusiaan terus dibuka agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Suriah,” tutur Arrmanatha.
Dia menambahkan, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi juga terus berkoordinasi dengan Wakil Tetap RI di PBB untuk menekankan bahwa Indonesia terus mendesak Dewan Keamanan PBB segera mengambil langkah agar situasi dan masalah di Suriah dapat diselesaikan.
Sebagaimana diketahui, Presiden Amerika Donald Trump telah memerintahkan serangan atas pengkalan udara militer Shayrat di kota Homs, Suriah. Serangan dilakukan militer Amerika pada Jumat pagi tadi atau Kamis malam waktu setempat.
Puluhan rudal Tomahawk diluncurkan dari dua kapal perang Angkatan Laut AS, USS Porter dan USS Ross di Laut Mediterania timur dengan membidik berbagai target, mulai landasan, pesawat tempur, sampai stasiun pengisian bahan bakar pesawat.
Sementara itu Departemen Pertahanan AS mengatakan bahwa Rusia, yang menjadi penyokong militer Suriah, telah diberitahu sebelum serangan rudal ke Suriah dilaksanakan.
EDITOR: Harun S
