SERUJI.CO.ID – Malam itu di Bali saya menikmati dua keindahan sekaligus; persahabatan dan seni Indonesia.

Tiga puluh lima tahun lalu, di tahun 80-an, kami menjadi aktivis mahasiswa. Pak Harto sebagian Presiden kala itu begitu kuatnya. Kampus direpresi. Namun selalu ada celah untuk tetap kritis walau lebih banyak di wilayah pemikiran.

Kami bersama mendirikan Kelompok Studi Proklamasi, semacam alternatif kegiatan mahasiswa yang tak hanya ingin belajar di kampus namun ingin terlibat di masyarakat.

Loading...

Saya ingat saat itu masa saya menjadi mahsiswa yang penuh kesulitan ekonomi. Begitu sering saya bulak balik ke perpustakan Idayu agar dapat membaca buku secara gratis. Atau berlama lama berdiri di depan jajaran buku Gunung Agung: berlagak sedang menimbang membeli buku baru. Padahal saya membaca cepat pengantar dan penutupnya secara gratis pula.

Era itu belum ada handphone, apalagi Om Google. Tak bisa saya mendapatkan info gratisan kecuali membaca buku di perpustakaan atau membaca cepat di toko buku.

Saya ingat di tahun 1986, usia saya 23 tahun. Saat itu saya kuliah semester tujuh di UI, dan semester tiga di Filsafat STF Driyarkara. Saya menulis di Kompas artikel berjudul: Kelompok Studi Mahasiswa, Masyarakat dan Negara.

Saya ceritakan tentang kisah kelompok studi mahasiswa yang muncul di tahun 20an. Soetomo, Mohammad Hatta juga Soekarno, mendirikan aneka kelompok studi. Kala itu kolonial represi Belanda sedang di puncaknya. Menyusun rencana Indonesia merdeka, mereka justru memulai dengan mempelajari aneka konsep mengenai nasionalisme dan perjuangan politik.

Dalam tulisan di Kompas itu, saya menyamakan kondisi tahun 80-an dengan era tahun 20-an. Saya usulkan agar kelompok Studi Mahasiswa menjadi alternatif kegiatan mahasiswa untuk tetap memelihara dan mengembangkan spirit kritis mahasiswa.

Setelah tulisan itu, kisah Kelompok Studi Mahasiswa menjadi trend. Saya ingat Kompas kemudian menurunkan tulisan tiga seri dalam waktu tiga hari di halaman pertama. Betapa senangnya saya. Saat itu wajah saya muncul di halaman pertama Harian Kompas.

Tak lama kemudian, majalah Tempo menjadikan isu mahasiswa dalam cover story. Kesenangan saya bertambah. Isu kelompok Studi Mahasiswa semakin menjadi.

Tak semua aktivis mahasiswa dan tokoh oposisi bersetuju dengan kehadiran kelompok studi mahasiswa. Yang tak setuju beranggapan saya melemahkan perlawanan mahasiswa kepada pak Harto, dengan mengalihkan sikap kritis mahasiswa dari demonstrasi jalanan ke dunia pemikiran.

Saya ingat beberapa kali saya diundang ke luar kota. Saya mengira diajak berdiskusi dan dipuji. Namun lebih sering saya diadili.

Kelompok Studi Proklamasi terus berjalan. Kami menerbitkan banyak buku hasil diskusi dan wawancara kami dengan banyak tokoh.

Tiga puluh lima tahun berlalu. Kami yang aktif di Kelompok Studi Proklamasi tetap berteman. Jalan hidup mulai berbeda. Ada yang tetap menjadi aktivis abadi. Ada yang sempat menjadi jurnalis.

Saya termasuk yang agak menyimpang, mencoba juga dunia bisnis karena terkesan dengan konsep Finansial Freedom.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama