SERUJI.CO.ID –¬†Akhirnya saya memahami. Mengapa Winston Churchill, Sang Perdana Menteri, dipilih BBC Poll (2002) sebagai warga Inggris terbesar sepanjang masa (Rangking 1 dari The 100 Great Brittons).

Saya juga mengerti. Mengapa pula Churchill sang politisi, yang hanya menulis satu novel itu, dipilih sebagai pemenang Nobel Sastra yang teramat bergengsi (1953).

Hari itu, tekanan datang pada Churchill bertubi-tubi. Bahkan elit berpengaruh partainya sendiri meminta ia bersedia negosiasi dengan Hitler. Nazi saat itu begitu perkasa. Satu persatu negara Eropa ditaklukan.

Loading...

Churchill mendapat laporan, melawan Hitler berperang itu sama dengan mati! Ratusan tentara Inggris terjebak di Dunkirk dan Calais. Mereka kalah dalam segala hal dan tinggal menunggu dibantai.

Saingan utama di partainya sendiri, Lord Halifax mengancam mengundurkan diri dari kabinet. Menolak negosiasi, menurut Halifax, itu sama dengan misi bunuh diri. Berapa banyak lagi kau tega membiarkan tentara kita mati? Lebih rasional cari kemungkinan terbaik dari percakapan damai.

Raja saat itu, King George VI, sudah mulai gelisah. Apa jadinya jika Hitler masuk dan menjajah Inggris. Banyak yang sudah menyarankan King George mengungsi masuk Kanada dan memimpin Inggris dari jauh.

Dalam kondisi yang tanpa harapan, Churchill menelfon sekutu Presiden Amerika Serikat Roosevelt. Ia yakinkan Roosevelt untuk kirim bantuan. Jika tidak, Eropa Barat jatuh ke tangan Hitler. Dunia dipertaruhkan. Tinggal Inggris yang betahan.

Namun Roosevelt tak bisa berbuat banyak. Ada hukum Netrality Acts of 1930 di Amerika Serikat yang membatasi. Presiden Amerika tak boleh ikut terlibat apapun dalam konflik perang saat itu. Dilarang membantu senjata atau mengirimkan serdadu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama