🎵 Dari Bocah yang Suka Jingle Iklan Hingga Penyanyi Triple Platinum
Lahir di Jakarta, 29 Maret 1990, Vidi tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan musik. Sang ibu, Besbarini, adalah guru piano yang mengenalkan Vidi pada instrumen musik sejak ia berusia tiga tahun. Dari garis ayahnya, Vidi mewarisi darah seni dari sang kakek, S. Darsih Kissowo, penyanyi keroncong legendaris asal Semarang. Tak heran, sejak balita Vidi sudah gemar mendengarkan jingle iklan televisi dan suara azan — dua hal yang membuatnya terpesona dengan dunia bunyi dan nada.
Perjalanan Vidi menuju panggung tidak mulus. Pada 2006, ia mengikuti audisi Indonesian Idol musim ketiga, membawakan lagu Glenn Fredly “Pada Satu Cinta” — namun langkahnya hanya sampai babak 100 besar. Tak menyerah, sejak SMA ia mulai menulis lagu dan merekam karyanya secara mandiri.
Sempat ditolak enam kali oleh berbagai label rekaman karena “penyanyi solo pria sedang tidak tren.” Namun kegigihannya membuahkan hasil ketika pada 2008, produser Lala Hamid memproduksi album debutnya.
Album perdana bertajuk Pelangi di Malam Hari (2008) langsung mencuri perhatian publik. Lagu “Nuansa Bening” — sebuah karya Keenan Nasution yang diaransemen ulang dengan sentuhan modern — dan “Status Palsu” menjadi hits di radio dan televisi nasional, mengukuhkan Vidi sebagai ikon pop muda Indonesia.
Pada 2011, ia merilis album kedua Yang Kedua, disusul mini album Dunia Baru (2013) dan album ketiga Persona (2016) yang menjadi puncak kejayaan kariernya.
Album Persona meraih sertifikasi Triple Platinum setelah terjual lebih dari 250.000 keping hanya dalam lima bulan — sebuah pencapaian luar biasa di era digital. Proses masteringnya dilakukan di Abbey Road Studios London, studio legendaris yang sama dengan milik The Beatles.
Di tengah perjuangan melawan kanker, Vidi masih sempat merilis album keempat Senandika pada 2022 yang memuat lagu “Bertahan Lewati Senja” — sebuah ekspresi paling jujur tentang perjuangannya melawan penyakit. Album ini terjual lebih dari 150.000 keping dalam dua bulan pertama.
