Ya, sejarah yang difiksikan. Ya, sejarah yang tambahkan kekuatan imajinasi. Sejarah yang didramatisasi melalui imajinasi tentu dilarang dalam penulisan ilmu sejarah. Namun untuk sastra, tiada yang terlarang karena sastra memang dunia imajinasi.

Kini kisah sejarah yang difiksikan, kisah sosial nyata yang difiksikan, atau lebih luas lagi fakta yang dicampur dengan fiksi juga ditemukan dalam satu jenis puisi, yang disebut puisi esai.

Generasi intelektual, penulis dan penyair Indonesia di era reformasi membuat eksperimen sebuah genre baru: Puisi Esai. Genre itu tentu tetap berinduk pada puisi atau prosa lirik.

Namun berbeda dengan pendahulu, puisi esai menambahkan satu dimensi yang justru di sana letak kekuatannya. Inilah puisi panjang yang di dalamnya ada drama layaknya cerpen, dan ada setting isu sosial nyata, lalu ada catatan kaki layaknya makalah ilmiah, menjelaskan fakta yang melahirkan kisah puisi itu.

Generasi ini bersama melahirkan apa yang belum pernah dibuat: 170-175 penyair, penulis, aktivis, dosen, jurnalis, merekam batin Indonesia di semua provinsi dalam format puisi esai. Satu provinsi satu buku. Satu buku terdiri lima atau enam isu sosial. Lahirlah 34 buku seri puisi esai Indonesia.

Peran saya hanya di awal saja, untuk mengerjakan aneka hal ihwal sekaligus. Saya merumuskan dulu konsep intelektual sebagai kredo puisi esai. Saya juga menuliskan dan menerbitkan dulu contoh buku puisi esainya. Saya juga memarketingkan dan berdebat di ruang publik soal eksperimen puisi esai. Sekaligus saya juga mencarikan dana, dan menyentuh para penulis lain untuk ikut serta.

Namun kerja saya tak akan bergema tanpa dukungan para founding fathers and mothers yang kini terlibat dalam eksperimen puisi esai. Kini saya hanya salah satu saja dari lebih 200 intelektual, penyair, penulis, dosen, aktivis, ibu rumah tangga, politisi, pembuat film, pengusaha yang terlibat dalam eksperimen sebuah generasi.

Inilah kumpulan para inovator puisi esai. Mereka sedang berjibaku dengan sebuah ijtihad budaya. Kita hidup di era yang besar ketika sejarah ditulis ulang. Aneka perubahan terjadi di segala bidang akibat datangnya revolusi industri keempat. Apa salahnya dunia puisi ikut pula cawe-cawe menyampaikan sesuatu yang baru, ikut memperkaya dunia puisi.

Maka lahirlah 40 buku yang kemudian menjadi lebih dari 70 buku puisi esai. Total yang menulis puisi esai lebih dari 250 penulis dari seluruh provinsi Indonesia. Tak ada satu sen pun dana pemerintah atau pihak asing atau pabrik rokok yang digunakan. Tak ada sedikitpun instansi atau lembaga pemerintah ditumpangi. ini murni gerakan civil society.

Untuk sosialisasi, berdebat di ruang publik, konseptualisasi puisi esai, tak terasa sudah lebih dari 30 esai saya tuliskan. Saatnya 30 esai itu disatukan dalam buku.

Maka terhidanglah buku ini dihadapan para sahabat, publik luas, termasuk pendukung ataupun kontra puisi esai. Semua gagasan saya menggerakkan opini dan merespon situasi terekam di buku ini.

Tapi apakah benar sebuah genre baru sudah lahir: genre puisi esai? Apakah benar telah datang angkatan baru: angkatan puisi esai? Apakah benar puisi kini punya nilai lebih, bisa merekam sepotong sejarah, bersama catatan kakinya? Apakah benar puisi esai dapat dikembangkan menjadi film layar lebar? Apakah benar penulis puisi esai pada waktunya dicatat paling kaya raya dibanding penulis puisi jenis lain karena drama di puisi itu dapat menjadi film layar lebar yang sangat laris?

Jawabnya tegas: Yes dan Ya dan Yessss!!! Sebuah klaim memang sengaja dibuat untuk menyentak. Tercapai atau tidak, itu adalah perjuangan.*

Maret 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama