Video Kampenye Ahok Dinilai Sengaja Lecehkan Warga Jakarta dan Muslim

JAKARTA – Video kampanye calon gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang diunggah di akun Twitter milik Ahok di @basuki_btp pada hari Ahad, 9 April lalu, menuai kecaman dari berbagai pihak.

Video yang berdurasi 2 menit tersebut, pada scene pembukanya mengambarkan suasana yang mencekam, sekelompok orang berdemo menggedor-gedor sebuah mobil yang berisi seorang Ibu dan anaknya yang ketakutan. Kelompok pendemo dengan sangat sengaja digambarkan sebagai kelompok Muslim, dengan latar belakang sebuah spanduk bertuliskan ‘Ganyang Cina’.

Video tersebut berisi suara pidato Djarot saat ‘Konser Gue 2’, dengan gambaran sekelompok orang yang sedang demonstrasi.

“Saudara-saudaraku, seluruh warga Jakarta, waktu sudah mulai mendekat. Jadilah bagian dari pelaku sejarah ini, dan akan kita tunjukkan bahwa negara Pancasila benar-benar hadir di Jakarta,” ucap Djarot.

“Kita juga akan tunjukkan bahwa Bhineka benar-benar bukan hanya jargon, tapi sudah membumi di Jakarta,” lanjut Djarot.

“Jangan tanyakan dari mana kau berasal, jangan tanyakan apa agamamu, tapi tanyakan apa yang telah kau perbuat untuk Jakarta,” tambah Mantan Wali Kota Blitar dua periode itu.

Video itu ditutup dengan pesan ’19 April pilih keberagaman’.

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Tengku Zulkarnain menilai video kampanye pasangan Cagub Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Cawagub Djarot Saiful Hidayat tersebut dengan sengaja ingin memojokan umat Islam.

“Apa maksud video tersebut. Apakah orang Islam digambarkan sebagai orang jahat?,” katanya, Ahad (9/4), dikutip dari Republika.

Ustadz Tengku menilai, video yang diproduksi Ahok tersebut justru jauh dari nilai Kebhinekaan yang digaungkan oleh pasangan Ahok-Djarot.

Ustadz Tengku menegaskan berdasarkan UUD 45 Pasal 28 E dikatakan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, maka setiap WNI berhak menjalankan hidup sesuai agamanya. Termasuk dalam memilih pemimpinnya.

“Dalam Islam di Alquran dan hadis disebutkan umat Islam harus memilih pemimpin sesuai dengan agamanya. Makanya bahaya sekali kalau menafsirkan Bhineka itu berarti membuang agamanya,” ujarnya.

Iklan kampanye ini berbahaya sekali, lanjut Ustadz Tengku sambil mencontohkan, jika warga Manado yang mayoritas Nasrani kemudian memilih pemimpin Nasrani, akan dikatakan tidak Bhineka, jika menggunakan analogi video kampanye Ahok.

“Apakah kalau warga NTT yang mayoritas Nasrani memilih pemimpin Nasrani berarti tak Bineka. Makanya kampanye ini (video -red) menyesatkan makna Bhineka. Oleh karena itu saya meminta agar KPU dan Bawaslu menarik iklan kampanye ini,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Perkumpulan Indo Digital Volunteer, Anthony Leong menilai video tersebut merupakan pelecehan terhadap masyarakat Jakarta yang dikesankan selalu punya watak kekerasan.

“Keberagaman itu sudah fakta, tidak perlu terus dilontarkan. Ini seakan-akan Jakarta belum siap menerima keberagaman. Saya sendiri sangat tidak terima dengan iklan video tersebut. Kami lagi mengkaji dan mempersiapkan laporan ini ke KPI,” tegas Anthony yang juga Pakar Digital Marketing itu.

Anthony menyebut video itu sebagai hal yang kontradiktif karena Ahok selama ini mengumbar kedamaian, kebhinekaan dan Pancasila, justru menampilkan berbagai visual yang mencekam.

“Dalam perspektif pesan komunikasi, visual-visual, dan gambar itu mengirim sebuah makna teror,” ujarnya.

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengecam video tersebut yang ia katakan rasis, karena menggambarkan warga Jakarta dan Muslim sebagai biang kekerasan.

“Sy baru lihat video rasis yg gambarkan seolah warga Jkt n muslim penuh kekerasan. Kampanye bodoh yg terus dipelihara,” kata Fadli melalui akunnya @fadlizon.


EDITOR: Iwan S

14 KOMENTAR

  1. Cara ahok dkk membuat opini kontra teori…. jika ahok menang dg curang terus demo rusuh! Ahok tinggal cuap d TV…benarkan iklanya yg kalian ributkan. Terus jika kita diam dan tdk demo adem ayem atas kecuranganya! Hanya karena ingin membuktikan jika iklan itu SALAH….. Nah inilah harapan bani SERBET.

  2. Sumber masalahnya sudah ketahuan dan sgat berbahaya memilih pemimpin yg isi kepalanya penuh fitnah dan fantasi.5 juta muslim berkumpul di Monas berkali kali dan tdk menyisakan sampah,damai, santun mau dihilangkan dg video ecek-2 gini….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER