Video Kampenye Ahok Dinilai Sengaja Lecehkan Warga Jakarta dan Muslim

14
2463

JAKARTA – Video kampanye calon gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang diunggah di akun Twitter milik Ahok di @basuki_btp pada hari Ahad, 9 April lalu, menuai kecaman dari berbagai pihak.

Video yang berdurasi 2 menit tersebut, pada scene pembukanya mengambarkan suasana yang mencekam, sekelompok orang berdemo menggedor-gedor sebuah mobil yang berisi seorang Ibu dan anaknya yang ketakutan. Kelompok pendemo dengan sangat sengaja digambarkan sebagai kelompok Muslim, dengan latar belakang sebuah spanduk bertuliskan ‘Ganyang Cina’.

Video tersebut berisi suara pidato Djarot saat ‘Konser Gue 2’, dengan gambaran sekelompok orang yang sedang demonstrasi.

“Saudara-saudaraku, seluruh warga Jakarta, waktu sudah mulai mendekat. Jadilah bagian dari pelaku sejarah ini, dan akan kita tunjukkan bahwa negara Pancasila benar-benar hadir di Jakarta,” ucap Djarot.

“Kita juga akan tunjukkan bahwa Bhineka benar-benar bukan hanya jargon, tapi sudah membumi di Jakarta,” lanjut Djarot.

“Jangan tanyakan dari mana kau berasal, jangan tanyakan apa agamamu, tapi tanyakan apa yang telah kau perbuat untuk Jakarta,” tambah Mantan Wali Kota Blitar dua periode itu.

Video itu ditutup dengan pesan ’19 April pilih keberagaman’.

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Tengku Zulkarnain menilai video kampanye pasangan Cagub Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Cawagub Djarot Saiful Hidayat tersebut dengan sengaja ingin memojokan umat Islam.

“Apa maksud video tersebut. Apakah orang Islam digambarkan sebagai orang jahat?,” katanya, Ahad (9/4), dikutip dari Republika.

Ustadz Tengku menilai, video yang diproduksi Ahok tersebut justru jauh dari nilai Kebhinekaan yang digaungkan oleh pasangan Ahok-Djarot.

Ustadz Tengku menegaskan berdasarkan UUD 45 Pasal 28 E dikatakan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, maka setiap WNI berhak menjalankan hidup sesuai agamanya. Termasuk dalam memilih pemimpinnya.

“Dalam Islam di Alquran dan hadis disebutkan umat Islam harus memilih pemimpin sesuai dengan agamanya. Makanya bahaya sekali kalau menafsirkan Bhineka itu berarti membuang agamanya,” ujarnya.

Iklan kampanye ini berbahaya sekali, lanjut Ustadz Tengku sambil mencontohkan, jika warga Manado yang mayoritas Nasrani kemudian memilih pemimpin Nasrani, akan dikatakan tidak Bhineka, jika menggunakan analogi video kampanye Ahok.

“Apakah kalau warga NTT yang mayoritas Nasrani memilih pemimpin Nasrani berarti tak Bineka. Makanya kampanye ini (video -red) menyesatkan makna Bhineka. Oleh karena itu saya meminta agar KPU dan Bawaslu menarik iklan kampanye ini,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Perkumpulan Indo Digital Volunteer, Anthony Leong menilai video tersebut merupakan pelecehan terhadap masyarakat Jakarta yang dikesankan selalu punya watak kekerasan.

“Keberagaman itu sudah fakta, tidak perlu terus dilontarkan. Ini seakan-akan Jakarta belum siap menerima keberagaman. Saya sendiri sangat tidak terima dengan iklan video tersebut. Kami lagi mengkaji dan mempersiapkan laporan ini ke KPI,” tegas Anthony yang juga Pakar Digital Marketing itu.

Anthony menyebut video itu sebagai hal yang kontradiktif karena Ahok selama ini mengumbar kedamaian, kebhinekaan dan Pancasila, justru menampilkan berbagai visual yang mencekam.

“Dalam perspektif pesan komunikasi, visual-visual, dan gambar itu mengirim sebuah makna teror,” ujarnya.

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengecam video tersebut yang ia katakan rasis, karena menggambarkan warga Jakarta dan Muslim sebagai biang kekerasan.

“Sy baru lihat video rasis yg gambarkan seolah warga Jkt n muslim penuh kekerasan. Kampanye bodoh yg terus dipelihara,” kata Fadli melalui akunnya @fadlizon.


EDITOR: Iwan S

Komentar

BACA JUGA
ott, korupsi

OTT Oknum BPN Lhokseumawe Ditetapkan Jadi Tersangka

LHOKSEUMAWE, SERUJI.CO.ID - Tim Saber Pungli Lhokseumawe, Provinsi Aceh, menetapkan salah seorang oknum PNS di Badan Pertanahan Nasional (BPN), S (54), menjadi tersangka hasil dari...
gunung agung

Promosi Pariwisata Bali Pasca Erupsi Gunung Agung

DENPASAR, SERUJI.CO.ID - Gunung Agung dengan ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut di Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, wilayah timur Bali, yang sempat beberapa...
Rudiantara

2019 Kominfo Targetkan Indonesia Terhubung Internet

YOGYAKARTA, SERUJI.CO.ID - Menteri Komunikasi dan Informatika RI Rudiantara menargetkan seluruh kabupaten/kota di Indonesia terhubung jaringan internet dengan kecepatan tinggi pada 2019 sehingga semua orang...
Abhan

Bawaslu: Penyelenggaraan Pilkada Jangan Mudah Tergoda Suap

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Abhan mengingatkan seluruh jajarannya untuk tidak mudah tergoda suap selama menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada)...
Suap

Terkait Suap, KPU Jabar Panggil KPU Garut

BANDUNG, SERUJI.CO.ID - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Barat akan memanggil jajaran KPU Garut untuk meminta klarifikasi terkait dugaan operasi tangkap tangan terhadap...
loading...
Screenshot_20180115_194046

PKS Optimis Peroleh 5 Kursi DPRD Pasaman Barat pada Pileg 2019

SIMPANG EMPAT – PKS optimis lima kursi DPRD Kabupaten Pasaran Barat akan diperolehnya pada pileg 2019. Hal ini disampaikan oleh Fajri Yustian Ketua Tim...
images (5)

Garis 7: Sesat Nalar

Analogi adalah sebuah cara otak untuk memahami sesuatu. Analogi mirip dengan perumpamaan. Jika ada orang yang bertanya bagaimana cara membuat jelly, maka paling mudah...
IMG_20180224_110625_530

Mencari Logika di Balik Kasus Tuduhan ke Habib Rizieq Shihab

Habib Rizieq Shihab (RHS) juga ditetapkan sebagai tersangka, setelah sebelumnya FH dijerat pasal pornografi dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. RHS bahkan...