JAKARTA, SERUJI.CO.ID — Sebuah kebetulan yang penuh ironi. Tepat sehari sebelum Mahkamah Agung Amerika Serikat menyatakan tarif Trump ilegal, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump telah lebih dulu menandatangani perjanjian dagang bilateral bersejarah.
Kini muncul satu pertanyaan besar: apakah Indonesia beruntung sudah mengunci kesepakatan lebih awal — atau justru terlanjur terikat dalam skema yang berubah dalam semalam?
⚡ Kronologi Singkat: Dua Hari yang Mengguncang Dunia Dagang
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 19 Feb 2026 | Prabowo–Trump teken ART (Agreement on Reciprocal Trade) di Washington D.C. |
| 20 Feb 2026 | Mahkamah Agung AS batalkan tarif IEEPA Trump, suara 6–3 |
| 20 Feb 2026 | Trump umumkan tarif global baru 10% via Section 122 |
| 24 Feb 2026 | Tarif 10% global berlaku efektif |
| ~Mei 2026 | ART RI–AS diperkirakan berlaku (90 hari setelah ratifikasi) |
Apa Itu ART? Ini Isi Perjanjian Sebenarnya
Dalam konferensi pers daring Jumat (20/2/2026), Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap detail perjanjian yang diberi judul resmi “Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance” itu.
Perjanjian ini bukan sekadar soal tarif. Ini adalah fondasi baru hubungan dagang dua negara yang dibangun setelah lebih dari 19 pertemuan teknis dengan perwakilan dagang AS (USTR), tujuh kunjungan ke Washington D.C., dan pengiriman empat surat resmi sejak April 2025. Airlangga menegaskan bahwa sekitar 90 persen usulan Indonesia disetujui oleh pihak AS.
Hal lain yang menonjol: berbeda dari perjanjian ART AS dengan negara lain, Indonesia berhasil menghapus klausul-klausul non-ekonomi dari dokumen. Isu seperti pengembangan reaktor nuklir, kebijakan Laut China Selatan, dan pertahanan perbatasan tidak masuk dalam ART Indonesia. “Murni ART kita adalah terkait dengan perdagangan,” tegas Airlangga.
📋 Isi Kesepakatan ART RI–AS: Angka-Angka Kunci
| Poin Kesepakatan | Detail |
|---|---|
| Tarif produk RI ke AS | 19% (turun dari 32% tarif resiprokal sebelumnya) |
| Produk RI bebas tarif 0% di AS | 1.819 pos tarif — termasuk tekstil, apparel, sawit, kopi, kakao, karet, elektronik, semikonduktor, pesawat |
| Tarif produk AS ke Indonesia | 0% (Indonesia buka pasar penuh untuk produk AS) |
| Komitmen beli energi AS | USD 15 miliar |
| Komitmen beli produk agrikultur AS | USD 4,5 miliar |
| Komitmen beli pesawat Boeing | 50 unit, termasuk seri 777 untuk Garuda Indonesia |
| Forum baru | Council of Trade and Investment RI–AS |
| Mulai berlaku | 90 hari setelah ratifikasi DPR RI dan proses internal AS |
Airlangga juga menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak akan dibebani biaya tambahan untuk impor gandum dan kedelai AS. “Masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” ujarnya — artinya harga tahu, tempe, dan mi berbahan dasar impor AS berpotensi lebih stabil.
