JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan menghadapi tekanan signifikan pada pembukaan perdagangan Senin, 6 April 2026. Setelah mencatatkan penurunan 0,99% sepanjang pekan terakhir ke level 7.026,78, indeks saham acuan Indonesia diproyeksikan masih akan bergerak dalam zona melemah di kisaran 6.825 hingga 7.445.
Prediksi IHSG Senin 6 April 2026 ini mencerminkan tekanan berlapis dari sisi global maupun domestik yang belum juga mereda.
Pekan Lalu: IHSG Tergerus 0,99%, Asing Kabur Rp2,94 Triliun
Perdagangan sepekan terakhir (30 Maret–2 April 2026) diwarnai tekanan yang konsisten. IHSG sepekan merosot didorong sentimen geopolitik global dan tekanan arus keluar modal asing yang mencapai Rp2,94 triliun. Angka outflow ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar domestik terhadap dinamika luar negeri, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Rata-rata nilai transaksi harian BEI selama sepekan terperosok 36,69% menjadi Rp14,77 triliun dari Rp23,33 triliun pada pekan sebelumnya. Penurunan nilai transaksi yang drastis ini mengindikasikan kepercayaan investor domestik pun mulai terdampak, bukan hanya asing. Mayoritas sektor saham tertekan, dengan sektor keuangan tergelincir 2,23%, sektor energi turun 1,52%, dan sektor transportasi dan logistik melemah 3,57%.
Satu-satunya penopang datang dari sektor konsumer. Tiga sektor yang mampu menguat adalah industri naik 3,35%, consumer nonsiklikal bertambah 2,28%, dan consumer siklikal menanjak 6,58%. Kenaikan ini pun dinilai tidak cukup untuk mengimbangi tekanan jual di sektor-sektor unggulan.
Faktor Geopolitik: Konflik AS–Iran Masih Membara
Katalis negatif terbesar yang membayangi IHSG pada Senin 6 April 2026 adalah belum meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pelemahan IHSG dipicu oleh ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang meningkatkan harga minyak dan menekan pasar saham kawasan.
Gangguan pasokan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama yang kemudian melambungkan harga minyak mentah global, dengan harga minyak dunia dilaporkan telah merangkak naik mendekati level US$99 per barel. Kenaikan harga minyak ini memicu efek domino ke seluruh sektor ekonomi. Kenaikan harga minyak memicu lonjakan harga batubara yang kini telah menembus US$140 per ton.
Situasi ini memaksa pelaku pasar global mengambil posisi risk off. Di tengah ketidakpastian tersebut, pelaku pasar cenderung mengadopsi sikap risk off, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.
Meski ada harapan de-eskalasi yang sempat memicu rebound teknikal pada 1 April 2026, para analis mengingatkan bahwa penguatan tersebut masih rapuh. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai kenaikan IHSG lebih bersifat technical rebound setelah sebelumnya mengalami tekanan, dengan sentimen global menjadi pendorong utama.
