JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Prediksi IHSG hari ini, Senin 30 Maret 2026 menjadi perhatian pelaku pasar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan lalu di zona merah dalam. Pada perdagangan Jumat (27/3/2026), IHSG ditutup melemah 67,03 poin atau 0,94% ke level 7.097,05—melanjutkan pelemahan dari hari sebelumnya yang sudah anjlok 1,89%.
Dalam sepekan (25–27 Maret 2026), IHSG mencatatkan penurunan 0,56%, dengan kapitalisasi pasar BEI menyusut 0,24% menjadi Rp12.516 triliun. Selama sesi perdagangan Jumat, indeks bergerak di rentang 7.070–7.154. Sebanyak 379 saham melemah, hanya 274 yang menguat, dan 167 stagnan.
Pergerakan Sepekan: Naik Tajam, Jatuh Lebih Dalam
Sepekan lalu memberikan gambaran pasar yang sangat volatil. Rabu (25/3), IHSG rebound kuat 2,75% ke 7.302 setelah kembali dari libur panjang Nyepi dan Lebaran. Namun Kamis (26/3) langsung berbalik anjlok 1,89% ke 7.164 akibat aksi profit taking dan eskalasi ketegangan AS-Iran. Jumat (27/3) koreksi berlanjut 0,94% ke 7.097.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar: ASII, TLKM, dan BMRI kompak melemah dan menyeret indeks lebih dalam. Dari 11 sektor, hanya tiga yang menguat: energi (+0,35%), kesehatan (+0,12%), dan consumer non-siklikal (+0,01%).
Sektor infrastruktur paling dalam terkoreksi (-1,29%), disusul industri (-1,27%) dan teknologi (-0,97%).
Faktor Pemberat Utama
Net sell asing masif: Investor asing melepas saham senilai Rp22,37 triliun dalam sepekan. Khusus Jumat, 10 saham top net sell asing dipimpin BBCA (Rp1,13 triliun), BBRI (Rp355,8 miliar), BBNI (Rp123,7 miliar), dan BMRI (Rp119,9 miliar).
Analis Rendy menilai ini lebih mencerminkan rebalancing global fund ke aset risiko rendah, bukan memburuknya fundamental domestik secara drastis.
Geopolitik AS-Iran: Ketidakpastian negosiasi antara Washington dan Teheran terus menjadi beban. Iran menolak proposal 15 poin AS dan menetapkan syaratnya sendiri. Trump memperpanjang tenggat waktu serangan hingga 6 April 2026, namun pasar tetap skeptis akan tercapainya kesepakatan.
Rupiah tertekan: USD/IDR ditutup di Rp16.965, melemah 0,36%. Tekanan rupiah memperburuk sentimen investor asing dan menambah risiko arus keluar modal. Data surat utang Indonesia mencatat arus keluar modal asing USD1,22 miliar secara month-to-date per 16 Maret 2026.
Perbandingan Bursa Regional dan Global
| Indeks | Penutupan Jumat | Perubahan | Keterangan |
|---|---|---|---|
| IHSG (IDX) | 7.097,05 | â–¼ 0,94% | Net sell asing Rp22 triliun sepekan |
| Nikkei 225 (Jepang) | – | ▼ 2,0%+ | Melemah 4 pekan berturut, saham teknologi AI tertekan |
| Kospi (Korea Selatan) | – | ▼ 3,0% | Penurunan terbesar di kawasan Asia |
| Hang Seng (Hong Kong) | 24.952 | â–² 0,4% | Satu-satunya yang rebound, didukung data laba industri China |
| ASX 200 (Australia) | – | ▼ 0,42% | Tekanan Wall Street malam sebelumnya |
| S&P 500 / Nasdaq / Dow | – | ▼ Melemah | Penutupan negatif Kamis, futures menguat tipis di Jumat |
Prediksi IHSG Senin 30 Maret 2026
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi pada Senin (30/3/2026), dengan proyeksi support di 7.059 dan resistance di 7.136. Ia menilai IHSG saat ini masih berada di bagian wave (v) dari wave [c] dari wave A, sehingga masih rawan koreksi ke area 6.745–6.887.
Skenario terbaik (best case): IHSG sudah menyelesaikan wave A dan akan melanjutkan penguatan ke 7.450–7.779.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menambahkan bahwa pernyataan yang saling bertentangan antara AS dan Iran menciptakan ketidakpastian signifikan. Pasar pekan depan akan mencermati rilis data PMI Manufaktur S&P Global Maret 2026, neraca perdagangan Februari 2026, dan data inflasi Maret 2026—ketiganya berpotensi menjadi katalis arah IHSG.
Saham yang direkomendasikan dicermati pekan ini dari analis: CUAN (Rp1.475–1.745), DSNG (Rp1.670–1.745), UNTR (Rp31.300–32.000) dari Herditya; MEDC, ENRG, PTRO, ANTM, CUAN dari Alrich; serta MBMA, ENRG, SRTG, SCMA, BUMI dari pengamat pasar modal Hendra Wardana.
Kesimpulan: IHSG Senin 30 Maret 2026 diprediksi cenderung melemah dengan volatilitas tinggi. Sentimen geopolitik Timur Tengah, tekanan rupiah, dan arus keluar dana asing masih menjadi tiga beban utama. Pelaku pasar disarankan berhati-hati dan fokus pada saham-saham sektoral yang memiliki katalis fundamental kuat, terutama di sektor energi dan komoditas yang relatif defensif dalam kondisi harga minyak tinggi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Seluruh keputusan investasi ada di tangan pembaca. Investasi di pasar modal mengandung risiko.
