“Kampung yang sudah punya PAUD ditingkatkan baik kualitas dan kuantitas tenaga pengajar serta sarana dan prasarananya. Sementara, kampung yang belum punya PAUD harus segera dibangun PAUD dan disedikan semua sumber daya dan fasilitas pendukungnya. Walau berlokasi di kampung padat, saya berharap kualitas PAUD-nya tidak kalah dengan PAUD di kawasan lain di Jakarta yang sudah maju,” ungkap Fahira.
Warga Jakarta, sambung Fahira, patut bersyukur mempunyai gubernur yang mempunyai pemahaman mendalam begitu pentingnya pendidikan bagi kemajuan sebuah daerah dan juga sudah melakukan aksi bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Dengan keberpihakan ini, diharapkan segera terjadi transformasi besar dalam perkembangan PAUD di Jakarta bahkan bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi daerah lain.
Usia nol hingga enam tahun, kata Fahira, merupakan tahun emas proses tumbuh kembang anak kerena 80 persen perkembangan vital otak anak ada pada periode ini. Tahun emas ini benar-benar akan menciptakan generasi emas jika anak-anak Jakarta mendapatkan pendidikan PAUD yang berkualitas sehingga mampu menempah dan membentuk anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang mandiri, percaya diri, memiliki rasa sosial yang tinggi, cepat beradaptasi, berani jujur, dan punya rasa ingin tahu yang besar, serta kepudulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
“Jadi PAUD berkualitas sebuah keharusan jika bangsa ini ingin menjadi bangsa maju, karena anak-anak inilah yang akan menjalankan roda bangsa ini di masa mendatang,” jelas Fahira.
Memang, beberapa tahun belakangan ini, PAUD di Jakarta luput dari perhatian jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai dari gubernur hingga Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) terkait. Selain tidak mempunyai program terobosan terkait PAUD, juga tidak ada alokasi dana khusus dari APBD untuk meningkatkan performa PAUD di Jakarta. Padahal pos anggaran untuk pendidikan DKI sangat besar. Bahkan pada 2017 mencapai sekitar Rp 17 triliun atau 27 persen dari total APBD DKI yang Rp 70,19 triliun. (ARif R)
