Yuk Belajar pada Tokyo untuk Atasi Banjir

Punya kanal-kanal raksasa bawah tanah, tapi belum betul-betul bisa tuntaskan masalah

95

TOKYO – Seperti Jakarta, kota Tokyo juga rawan banjir. Kondisi geografis ibukota Jepang itu memungkinkan bencana air. Prefektur Saitama bahkan berada di Cekungan Nakagawa yang lebih rendah ketimbang permukaan sungai Edo sehingga jadi langganan banjir. Penduduk Tokyo juga tak asing dengan topan dan badai. Tahun 2011 topan Roke membawa angin 200 km/jam disertai curah hujan 54 liter per meter persegi. Akibatnya 520.000 rumah terdampak, butuh berhari-hari hingga air surut.

Terus, bagaimana? Sejak 1960-an, pemerintah Tokyo secara berkesinambungan mendesain sistem kanalisasi untuk mencegah banjir. Tapi, upaya tersebut gagal ketika ibukota Jepang didera cuaca ekstrim. Belakangan, pemerintah Tokyo membangun kolam bawah tanah terbesar sejagad. Namun itu pun belum cukup.

Ada 15 sungai membelah Tokyo. Lima yang melewati jantung kota dibeton hingga ke dasar sungai. Sisanya diatur bendungan di hulu. Namun, senjata utama terletak 50 meter di dalam tanah: yakni Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel alias G-Cans. Kanal ini seperti kathedral raksasa yang ditopang 59 pilar beton dan dilengkapi 78 pompa untuk memindahkan 200 ton air per detik. Kapasitas ini cukup buat memenuhi 25 kolam renang kelas Olimpiade.

Pemerintah Tokyo butuh waktu 15 tahun untuk menuntaskan proyek futuristik ini. G-Cans adalah sistem drainase terbesar di dunia, tapi prinsipnya sederhana. Air dari berbagai sudut kota dialirkan melalui sumur setebal sepuluh meter ke dalam lima kolam beton raksasa yang memiliki ketinggian 65 meter dan lebar 32 meter. Sistem tersebut tersambung dengan terowongan air selebar 10 meter dan panjang 6,4 kilometer yang ditanam di bawah tanah.

Berbagai ahli mendaulat G-Cans sebagai keajaiban teknologi yang menelan biaya hingga dua miliar Dollar AS atau sekitar 26 triliun Rupiah. Sejak tuntas dibangun tahun 2006, G-Cans sudah digunakan 70 kali. Menurut pemerintah Tokyo, sistem kanalisasi banjir itu ampuh mengurangi dua pertiga wilayah yang biasanya tergenang saat musim hujan. Namun begitu G-Cans hanya didesain untuk mengalirkan air hujan, bukan air laut semisal banjir rob.

Selain G-Cans, Tokyo juga membangun kanalisasi sungai bernama Furukawa Underground Regulating Reservoir. Kanal berupa lorong air tersebut ditanam 15 meter di bawah sungai Furukawa dan dibangun memanjang sesuai aliran sungai. Menurut pemerintah Jepang, sistem kanalisasi banjir ini mampu menampung hingga 50mm air per jam.

Tapi kapasitas tersebut dinilai belum cukup. Pemerintah mencanangkan proyek pembangunan kanalisasi baru agar Tokyo nantinya mampu menghadapi curah hujan setinggi 75mm per jam. Proyek baru tersebut mencakup pelebaran kanal dan pendalaman sungai. Untuk menuntaskannya dibutuhkan waktu 20 tahun ke depan.

EDITOR: Omar Ballaz

loading...

2 KOMENTAR

  1. Wow… Dana segitu gedenya … Belum bisa selesai masalahnya… Jakarta belum apa apa dah pada sombong, hasil kerja katanya… Ternyata oh ternyata, pake nyalahin kondisi alam segala… Hadeeeeuh…. Hmmmm masih berani SOMBONG ma sang MAHA PEMILIK ?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama