Kritikus Top Presiden Duterte Ditangkap

Justru suap narkoba dijadikan alasan penangkapan

89
Leila de Lima saat pemilu untuk mendapatkan kursi di Senat.

MANILA – Senator Leila de Lima, yang sering mengkritik pedas cara-cara mematikan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam menumpas narkoba, ditangkap di ibukota Manila, Jumat (24/2) sore, atas tuduhan terlibat suap. Namun, seperti dilaporkan kantor berita Associated Press, ia mengaku tidak bersalah dan tidak akan terintimidasi oleh aksi pemimpin yang ia sebut ‘pembunuh berantai’ itu.

Sehari sebelumnya, Pengadilan Pidana Regional kota Muntinlupa, di metropolis Manila, mengeluarkan surat perintah penangkapan atas Leila de Lima dan sejumlah pejabat lain. Menurut dakwaan jaksa negara, mereka menerima suap dari bandar narkoba yang sudah ditahan.

De Lima mengatakan, tuduhan terhadap dirinya adalah bagian dari upaya Duterte memberangus kritiknya atas tindakan keras Duterte yang menewaskan lebih dari tersangka 7.000 pengedar narkoba dan pengguna narkoba kelas teri. De Lima mempertanyakan mengapa pengadilan tiba-tiba mengeluarkan perintah penangkapan ketika ia dijadwalkan Jumat mendengar petisi untuk membatalkan tiga tuduhan.

“Jika mereka berpikir bisa membungkam kritik saya, jika mereka berpikir saya tidak akan lagi berjuang untuk advokasi, khususnya tentang kebenaran atas pembunuhan sehari-hari dan intimidasi lainnya dari rezim Duterte ini, maka saya tegaskan saya merasa lebih terhormat dipenjara atas apa yang saya perjuangkan,” katanya sebelum polisi menciduknya dari ruang Senat dan membawanya ke tempat penahanan.

Konvoi kendaraan polisi, yang diuntit media, membawa Leila de Lima ke kantor polisi utama. Di situ, petugas mengambil foto dan sidik jarinya, kemudian menguncinya di tahanan. Di tempat itu, sejak tiga tahun lalu, sudah ada dua mantan senator yang ia Leila de Lima pernah bantu dalam pengadilan kasus penjarahan ketika ia menjadi Menteri Kehakiman.

Wakil Presiden Leni Robredo dan sekutu politik lainnya menyatakan dukungan pada Leila de Lima dengan mengatakan dia dianiaya karena mengkritik presiden. Uskup Agung Socrates Villegas mengatakan, para senator dan orang-orang lain yang didakwa harus diberi pengadilan wajar. Juru bicara presiden, Ernesto Abella, mengatakan Leila de Lima akan diperlakukan secara adil dan tidak harus takut atas keselamatannya di tahanan.

Ketika Leila de Lima menjadi ketua Komisi Hak Asasi Manusia, dia mencoba menggugat Duterte (yang kala itu menjadi walikota Davao) atas sejumlah kematian yang diduga melanggar hukum dalam tindakan anti-narkoba di Davao. Namun, gugatannya gagal karena tidak ada saksi yang berani datang melawan walikota.

Duterte mengembangkan tindakan keras anti-narkoba setelah menjadi presiden pada Juni lalu, dan Leila de Lima terus mengkritiknya setelah terpilih menjadi anggota Senat tahun lalu. Pekan ini, Leila de Lima menyebut Duterte sebagai ‘sosiopat pembunuh berantai’ yang belum mempertanggungjawabkan lebih dari 1.000 kematian di kota Davao dan sekarang ribuan kematian di seluruh Filipina. Dia mendesak Kabinet untuk menyatakan Duterte tidak layak melayani rakyat sebagai presiden.

EDITOR: Omar Ballaz

loading...

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama