Memahami Munculnya Boko Haram Untuk Membaca Situasi Indonesia Kini

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Gerakan GMKM (Gotong Royong Muslim untuk Media) menggelar bedah buku “BOKO HARAM – The History of an African Jihadist Movement” karya Alexander Trurstone di Ruang Darussalam Masjid Al-Falah Surabaya, Sabtu (24/2).

Bedah buku ini menghadirkan peneliti dari Centre For Statecraft and Citizenship Studies (CSCS) UNAIR, Rosdyansyah.

Acara dipandu oleh Pimpinan Umum SERUJI, Ferry Koto, dengan pembanding dari Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Jatim Dikky Shiddiqumullah, dan Pengurus GP Ansor Jatim Alaika Bagus.

Diskusi dan bedah buku terbitan Princeston University 31 Oktober 2017 ini dipantik awal oleh Rosdiansyah. Ia menyebut kemunculan kelompok Islam ektremis Boko Haram diakibatkan situasi di Nigeria awal tahun 2000an, yang polanya mirip sebagaimana situasi negara Indonesia saat ini.

“Cuma bedanya kita sedang menuju pada stabilitas, kalau di Nigeria banyak sekali gesekan junta militer dan penggulingan kekuasaan atau kudeta. Persoalan lain mereka juga memperoleh manfaat yang besar dari booming minyak (masa itu, red),” katanya.

Pria kelahiran Pasuruan ini melanjutkan, situasi Nigeria saat itu mirip dengan situasi Indonesia di tahun 1970an, yang sempat mengalami booming minyak. Saat yang sama hasil booming minyak tersebut tidak berdampak pada kesejahteraan warga negaranya.

Ketika masyarakat di sebuah negara berada dalam garis kemiskinan, lanjutnya, dan keadilan belum terwujud oleh pemerintah negara tersebut, masyarakat yang merasa lelah dan jenuh atas keadaan terbatas itu, bisa melakukan hal-hal ekstrim dan radikal.

“Itulah kenapa sumber-sumber yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas, harus diberikan secara langsung kemanfaatannya kepada masyarakat, agar tercipta keadilan,” ujarnya.

Dijelaskan Rosdiansyah, Boko Haram tidaklah mengadopsi pemikiran komunisme atau ideologi ekstrim lainnya. Hanya bermodal pemahaman atas ajaran agama Islam yang menegaskan pentingnya hak, kemudian masyarakat berani melakukan segala cara dalam menuntutnya.

“Jadi simple, tentang keadilan. Mereka melakukan perlawanan bersenjata karena mereka ingin menegakkan keadilan. Mereka sama sekali tidak mempelajari teori-teori modern,” tegasnya.

Pimpinan Umum SERUJI, Ferry Koto (kiri), Pengurus GP Ansor Jatim Alaika Bagus (tengah) dan Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Jatim Dikky Shiddiqumullah (kanan).

Rosdiansyah menganggap buku setebal 352 halaman yang bersampul hardcover warna merah ini relevan untuk konteks masalah di Indonesia tentang keadilan dan kesejahteraan yang tak kunjung merata.

“Jangan melakukan sesuatu semena-mena pada masyarakat, karena masyarakat ini kalau sudah bereaksi keras mereka akan melakukan apa saja, tidak akan takut pada siapapun, ini pelajaran penting, karena dinamika politik akan berimbas pada kondisi sosial masyarakat,” pungkasnya.

Acara bedah buku ini diselenggarakan oleh gerakan Gotong Royong Muslim Untuk Media (GMKM), sebuah gerakan yang digagas oleh Ferry Koto, yang bertujuan untuk memberikan pencerahan (Media Literacy) dan menjadikan muslim Indonesia mayoritas juga mayoritas dalam penguasaan media (Media Ownership).

Melalui GMKM disepakatilah bentuk usaha bersama dibidang pers berupa Koperasi yang kemudian melahirkan Koperasi Swamedia Mitra Bangsa yang merupakan pemilik dari portal berita SERUJI.CO.ID. (Luhur/SU05)

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER