Tulisan 1: Meme Pembubaran HTI

Tulisan ini diambil dari E-Book karya Prof Daniel M Rosyid dengan judul "Surabaya Menggugat".

|

SERUJI.CO.ID – Awal Mei 2018 ini meme yang memuat foto dan komentar saya soal pembubaran HTI telah viral di media sosial. Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Senin 7/5/2018 malam saya telah dipanggil oleh pimpinan ITS untuk menjelaskan posisi saya soal meme tersebut. Meme poster tersebut memuat komentar pendek saya soal kasus pembubaran HTI seminggu sebelumnya. Dalam meme tersebut saya disebut sebagai Guru Besar ITS dengan berbagai tagar yang mudah mempersepsi saya sebagai pendukung HTI atau bahkan anggota HTI, lalu ITS adalah sarang HTI. Luar biasa.

Selama setahun terakhir ini saya memang banyak berinteraksi dengan penggiat HTI dalam beberapa diskusi. Di rumah saya punya beberapa “buku wajib” HTI. Terakhir bahkan saya undang kawan-kawan saya untuk membedah sebuah disertasi tahun 2000-an di London School of Economics dengan judul “The Inevitable Caliphate”. Seorang kawan dari JPIP ikut membedah disertasi tersebut secara kritis.

Teman teman HTI berusaha keras meyakinkan saya dan istri saya tentang peran penting khilafah. Saya dan istri saya sudah sejak lama percaya khilafah, namun dengan pemahaman yang berbeda dari versi HTI. Bagi saya, khilafah baru yang disebut Imam Mahdi hanya bisa hadir di atas reruntuhan Kerajaan Arab Saudi. Sebagian pemahaman saya ini telah saya tulis dalam sebuah artikel di Jawa Pos serta dalam beberapa portal berita seperti Cakrawarta.

Bagi saya saat ini, ummat manusia berada dalam khilafah Pac Americana dengan Obama, lalu Trump sebagai khalifah. Khilafah adalah satu bentuk Tata Dunia (World Order) dengan berbagai instrumen teknokratiknya seperti PBB beserta lembaga-lembaga di bawahnya seperti the World Bank dan International Monetery Fund.

Bagi saya, dunia saat ini dibawah khilafah yang dzalim yang sewenang-wenang atas kebanyakan ummat manusia. Pancasila tidak mungkin hidup subur dalam ekosistem Tata Dunia semacam ini. Inilah yang menjelaskan mengapa Pancasila telah dipaksakan secara semu saat Orde Baru, dan hampir saja dibuang saat Reformasi. Seperti peringatan Bung Karno, saat ini praktis kita sudah mengalami penjajahan baru. Penjajahan remotely controlled melalui sistem ekonomi dan keuangan global ribawi. Oleh Bung Karno ini disebut nekolim.

Meme yang viral di media sosial yang mengutip pernyataan Prof Daniel M Rosyid

Saya menolak Perpu Ormas karena saya nilai sebagai titik masuk bagi otoriterianisme yang akan dipakai untuk mengontrol pikiran orang. Setelah sistem persekolahan banyak membuat warga muda dungu, UU Ormas ini akan memperparah kedunguan ini.

Kampus bagi saya adalah a market place of ideas Mahasiswa perlu berlatih memahami berbagai pikiran mendasar mengenai realitas kehidupan berbangsa dan bernegara agar pantas menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Menentang UU Ormas ini adalah perang melawan kedunguan.

Sebagai dosen PNS saya sudah lama tidak memposisikan diri sebagai pegawai, tapi sebagai profesional. Sebagai profesor saya juga diberi tunjangan kehormatan. Saya tidak tahu persis alasan mengapa profesor berhak atas tunjangan kehormatan ini. Saya juga pernah menjadi Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Cabang Surabaya. Saat ini saya duduk menjadi anggota Majelis Kehormatan Etik PII Pusat. Setahu saya, para profesional bukan bekerja bagi siapa membayarnya. Dia melayani publik untuk kebajikan publik. Kemarin malam oleh manajemen puncak ITS saya telah diposisikan sebagai pegawai.

Saya lama berkeyakinan bahwa universitas adalah lembaga yang istimewa karena berhak memberi gelar sarjana bahkan doktor. Lembaga lain tidak punya hak semacam ini. Gelar itu disebutkan dalam ijazah. Ijazah ini kosa kata Arab yang memiliki akar kata yang hampir sama dengan kata mu’jizat. Setiap sarjana yang kami didik di ITS diharapkan dapat membuat banyak mu’jizat bagi masyarakatnya. Mu’jizat itu perkara istimewa bagi yang tidak berilmu, tetapi perkara biasa bagi sarjana.

Senin malam 7/5/2018 malam saat saya -sebagai profesional- diminta mencabut komentar saya yang viral itu saya menolak karena tidak mampu tidak konsisten dengan hati nurani saya yang telah saya tuliskan dalam beberapa media. Saya segera ingat satu ketika (1983) sebagai Ketua Musholla ITS saya diminta menarik kembali buletin Musholla ITS oleh pimpinan ITS waktu itu. Permintaan itu juga saya tolak karena sudah terlanjur beredar bagi pengunjung pada saat Pameran Buku dan Busana Muslim di sekitar Perpustakaan ITS waktu itu. Dalam buletin itu ada foto “masjid ITS” yang terlantar pembangunannya dan foto seorang mahasiswi berjilbab serta wawancara wartawan Buletin Musholla dengan seorang mantan Ketua Dewan Mahasiswa ITS.

Malam ini saya teringat almarhum ayah saya, Mr. Ibrahim Ibnu Djamhuri, seorang pengacara alumni UGM yang jadi pedagang yang telah wafat 25 tahun silam. Semula dia jaksa, lalu diasingkan untuk ngurusi sebuah pabrik minyak kelapa yang bangkrut di dekat Pelabuhan Tanjung Emas. Diasingkan karena secara terbuka dia menolak untuk memuja Soekarno di puncak kekuasaannya.

Di ruang tamu rumah kami di Semarang terpampang sebuah lukisan cat minyak Abraham Lincoln. Ayah saya itu -seorang Masyumian- adalah pengagum berat Abraham Lincoln -seorang Yahudi. Keduanya adalah sarjana hukum. Anehnya, ayah saya berpesan “kelak jadilah dokter atau tentara. Jangan kuliah di Fakultas Hukum bengkok”.

Lanjutan ke Bagian 2: Membangun Masyarakat Bebas

Loading...
Daniel Mohammad Rosyid
Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.

Departying dan Deschooling

rupiah

Segera Reformasi IMF

Stop Riba Sekarang Juga !