MENU

MENCEKAM! Rupiah Tembus Rp16.877, Nyaris Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Masa—Bisakah Bertahan di Bawah Rp17.000 Hari Ini?

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Nilai tukar rupiah kembali melemah tajam pada perdagangan kemarin, Senin (13/1/2026), mencapai level Rp16.877 per dolar AS. Angka ini menandai penutupan terlemah sejak akhir April 2025 dan memicu kekhawatiran pasar akan terciptanya rekor baru pelemahan mata uang Garuda.

Apakah Ini Pelemahan Terlemah Sepanjang Sejarah?

Belum, tapi sudah sangat mendekati! Meski angka Rp16.877 sangat mengkhawatirkan, rupiah belum melampaui rekor terlemah sepanjang sejarah Indonesia. Berdasarkan catatan historis, rekor terburuk terjadi pada 7 April 2025 ketika rupiah ambruk hingga Rp17.261 per dolar AS di tengah perang dagang AS-China.

Posisi kemarin masih lebih baik dibandingkan krisis moneter 1998 yang mencatat titik terendah di Rp16.800-16.950 per dolar AS pada 17 Juni 1998. Namun, para analis memperingatkan bahwa rupiah saat ini berada pada “zona bahaya” dan berpotensi menembus level Rp17.000 dalam waktu dekat jika tekanan global terus meningkat.

Untuk perspektif, pada perdagangan kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) hari ini (14/1/2026), rupiah sudah tercatat di level Rp16.876, menunjukkan tekanan berlanjut.

Penyebab Pelemahan Rupiah: Badai Sempurna dari Dalam dan Luar Negeri

Faktor Eksternal (Dominan):

  1. Penguatan Dolar AS yang Agresif
    • Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke level 98,99, didorong oleh imbal hasil US Treasury yang masih tinggi
    • Investor global cenderung memegang dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi
    • Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama
  2. Kontroversi Independensi The Fed
    • Muncul ancaman investigasi pidana terhadap Jerome Powell, Ketua The Fed
    • Isu intervensi pemerintah AS terhadap The Fed menimbulkan kekhawatiran tentang kredibilitas kebijakan moneter AS
    • Meski demikian, pasar menilai hal ini belum berdampak nyata terhadap arah kebijakan moneter
  3. Sentimen Risk-Off Global
    • Investor berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang
    • Ketegangan geopolitik antara Iran dan AS yang meningkat
    • Ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Trump yang masih membayangi pasar

Faktor Domestik:

  1. Defisit APBN yang Melebar
    • Defisit APBN 2025 tercatat 2,92% terhadap PDB, melampaui target awal
    • Citigroup memproyeksikan defisit 2026 akan melonjak hingga 3,5% terhadap PDB, melampaui batas aman 3%
    • Penerimaan pajak yang terkumpul di bawah 90% target akibat penurunan harga komoditas
  2. Prospek Pelonggaran Moneter Bank Indonesia
    • Pasar mencermati ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut oleh BI
    • Meski fundamental cukup kokoh, sikap dovish BI menekan nilai tukar
  3. Data Ekonomi yang Beragam
    • Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 turun 0,5 poin ke 123,5
    • Surplus perdagangan menyempit menjadi USD2,66 miliar pada November 2025
    • Penjualan eceran tumbuh 1,5% MoM, menunjukkan daya beli relatif terjaga

Prediksi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (14 Januari 2026)

Para analis memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan tekanan berlanjut pada perdagangan hari ini. Berikut proyeksi dari berbagai lembaga:

  • Trading Economics: Rentang Rp16.770 – Rp16.900 per dolar AS
  • MNC Sekuritas: Rupiah masih berpeluang volatile kedua arah
  • Bloomberg Technoz: Rupiah berpotensi menguji level psikologis Rp17.000 per dolar AS

Skenario Worst Case: Jika data inflasi AS yang dirilis pekan ini menunjukkan hasil lebih tinggi dari ekspektasi, rupiah bisa melemah ke rentang Rp16.900-Rp17.000 per dolar AS.

Skenario Best Case: Jika sentimen global membaik dan Bank Indonesia melakukan intervensi agresif di pasar spot dan NDF, rupiah berpotensi menguat kembali ke zona Rp16.700-Rp16.800.

Langkah Bank Indonesia untuk Stabilisasi

Bank Indonesia terus memantau pergerakan nilai tukar secara real-time melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). BI telah melakukan intervensi di:

  • Pasar spot
  • Pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder
  • Optimalisasi instrumen likuiditas rupiah

Meski demikian, para ekonom menekankan bahwa tekanan global masih mendominasi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Dampak bagi Masyarakat

Pelemahan rupiah dapat berdampak pada:

  • Inflasi: Harga barang impor meningkat
  • Utang Luar Negeri: Beban pembayaran dalam dolar membengkak
  • Investasi: Kepercayaan investor asing menurun
  • Pelaku Usaha: Kesulitan menetapkan harga di tengah volatilitas tinggi

Catatan Editor: Artikel ini ditulis berdasarkan data perdagangan 13 Januari 2026 dan proyeksi untuk 14 Januari 2026. Kondisi pasar dapat berubah dengan cepat mengikuti dinamika global dan domestik.

Pantau terus perkembangan nilai tukar rupiah hanya di portal kami!

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER